Jatuh Hati Part 3

“eh Fan, maksud lo apaan sih? Si Tika udah ada cowo baru? Lu ga liat muka cowo itu?” serbu Marisa dengan pertanyaan membabibuta-yang–entah-itu-pertanyaan-ditujukan-ke-siapa. Kalau bisa mengecilkan tubuh, sekarang adalah saat yang tepat, aahh tidak, saatnya di interograsi nih bentar lagi.

“Tika…??” “Oke girls, tenaaanng tenaaanng gue akan cerita” huufffff… diawali dengan helaan nafas panjangku. Mulailah aku bercerita tentang kehadiran Harris yang selama ini aku kagumi dan ternyata dia lebih menarik daripada hanya untuk dikagumi, dia lebih dari sekedar keren hanya untuk dikagumi, mungkin dipuja? Ahaha.. baiklah.. serius nih, sejauh ini aku hanya menjalani apa yang tidak atau belum kami sebut sesuatu yang istimewa. Kalau kata orang jawa sih, let it flow..

“ngaco lo Tik, ahahaha.. terus gimana sekarang?”

“yaa ga gimana-gimana lah Jeng, gue kan baru tahap mengenal aja”

“iya mengenal gimana lu berubah jadi kepiting rebus kalau lagi dipuji mulu sama dia”

“CIIIEEEEEE…” semua bersorak serempak kayak anak Pramuka lagi pamer yel-yel.

“eh gila lu pada, lagi di mall nih, jangan teriak norak gitu dong” kataku sambil memberikan isyarat untuk diam pada gerombolan heboh ini.

“Okelah Tik.. good luck for you darling, kita semua senang kalau lu bisa senang seperti sekarang, semoga awal yang baik yaa darling” Dila akhirnya berkata bijak dan disambut anggukan kami semua.

“aauuu so sweet sekali, makasih yaa teman-teman” ujarku dengan muka berseri-seri

***

“Tika, mau kemana kamu?”

“ada acara Bu” jawabku sambil memulas bedak didepan kaca.

“ooo ada yang mau jemput ya?”

“iya Bu”

Terdengar mobil parkir didepan rumahku, pintu mobil terbuka dan disanalah dia, siap menghampiriku di rumah.

“Assalamualaikum, Tika..”

“Iya Harris, masuk aja, bentar ya”

Ibuku keluar menyambutnya. Dia spontan menghampiri dan cium tangan ibu. Sesuatu yang menyenangkan untuk dilihat. Hatiku tersenyum melihatnya begitu.

“so, where will we go this time?”

“I’m not gonna tell you, just wait okay?”

“hmm better it is good yaa?”

“okay princess” katanya sambil membungkukkan badan ala Nicholas Saputra di AADC setelah ngobrol sama Cinta, haduhhh nih orang bisa ga sih ga bikin aku meleleh gini. Tapi yang terjadi dimukaku cuman senyum garing. Ahahaha..

“nah sampai juga nih disini”

“Planetarium?!” kataku takjub dan melonjak kegirangan. “serius kita mau lihat pertunjukkannya?!” kataku yang tak bisa menyembunyikan antusias yang menggebu.

“of course dear, lets go”

“waaahhh…” buru-buru ku lepaskan sabuk pengaman dan segera membuka pintu mobil.

PENGUMUMAN

 DIBERITAHUKAN KEPADA SELURUH PENGUNJUNG PLANETARIUM, BERHUBUNG PROYEKTOR UTAMA M-IX DALAM PROSES PERBAIKAN, MAKA PLANETARIUM TIDAK ADA PERTUNJUKAN HINGGA WAKTU YANG BELUM DAPAT DITENTUKAN, MOHON MAKLUM, TERIMA KASIH

Kepala Planetarium Jakarta

“Yaaaahhhhh…!!!!” kami berteriak bersamaan setelah selesai membaca pengumuman itu. Saling pandang dan muka cemberut berbarengan.

“Maaf Tik.. kirain bisa nonton pertunjukkan” katanya dengan raut muka sendu sedih gitu.

“Iya gapapa Harris, belum jodoh buat nonton pertunjukkan ini” kataku sambil putar badan dan menuruni tangga lobi planetarium. Tiba-tiba lenganku tertarik sesuatu, ternyata Harris menarik lenganku sambil berkata “Gimana kalau kita ke tempat lain, yang deket sini aja, supaya kita ga cemberut mulu begini” katanya sambil menunjukkan muka cemberut seperti bocah kecil.

Mau tak mau aku jadi tertawa melihat bentuk wajahnya sekarang. “Ya udah boleh deh”

“nah gitu dong, yuk masuk lagi princess” dia menggiringku ke mobil dan membukakan pintu mobil. Haduh Ris, please bisa stop bikin aku kayak princess beneran gini ga? Untuk kesekian kalinya aku meleleh karena dia.

*bersambung*

Jatuh Hati Part 2

“jadi kita mau kemana?”

Dia tersenyum masih dengan tangan kanan memegang stir mitsubishinya dan tangan kiri di perseneling. “ada deh, liat aja nanti”

“aahh ga asik nih, pake rahasian segala”

“ahahaha.. tenang aja, pasti bakal seru kok”

“awas ya kalo ngebosenin” ancamku sambil nunjuk ke hidungnya.

“ahaha iyaa, dijamin seru”

“fine, we will see then”

Mobil sedan hitam ini memasuki gerbang sebuah museum. Halaman yang luas dengan icon sebuah hiasan dari besi begitu besar di tengah lapangannya. Akhirnya aku menjejakkan kaki di museum ini. Museum Nasional yang telah sedikit mengalami perubahan dan renovasi, semakin menarik dan edukatif untuk pengunjungnya.

“wah ga nyangka museumnya besar banget yaa…” kataku sambil mengadahkan kepala dan melihat berputar dari tempat kuberdiri dengan mata terbelak heran.

“ahaha iya, emang besar sekarang, masih tahap renovasi sih, tuh ada beberapa lantai yang masih belum buka, sayang banget, itu justru objek yang menarik untuk dilihat, sejarah tentang perekonomian dari jaman prasejarah hingga sekarang dan disana seharusnya ada uang-uang kuno koleksi museum ini” jelasnya panjang lebar dan yang bisa kulakukan adalah membentuk huruf o di mulutku dan menganggukkan kepala.

“yuk kita kesana, keliling yuk” “siap bos” kataku sambil mengangkat tangan tanda hormat padanya.

Dia tertawa renyah, selalu membuat aku semakin tersipu dan kangen senyumnya itu.

Saat kami sudah hampir selesai keliling dan terduduk kecapekan di salah satu kursi yang ada dihalaman samping gedung, aku baru tersadar, sepertinya dia belum memotret sama sekali. Sempat ragu untuk bertanya tetapi kuputuskan bertanya padanya. “kok dari tadi belum pegang kamera kamu?” “oh iya yah, asik keliling dari tadi sama kamu sih” hehehe dia tertawa basi. Tawaku pecah “dasar kamu, gimana sih, katanya mau motret”

“but actually I got everything that I need in here” sambil menunjuk ke arah kepalanya. “and what is that?” “a lot of pictures of yours” aku hanya bisa menunduk malu, senyum sumringah menghiasi mukaku.

“aku dapet kok foto-foto yang aku suka, mau lihat?” katanya sambil menyodorkan kamera yang masih didalam genggaman tangannya yang besar dan kuat itu. Dengan cepat aku mengangguk pasti dan sambil senyum sumringah seperti anak kecil disodorkan coklat kesukaannya.

Mataku terus tertuju dengan foto-foto luar biasa sangat bagus itu. Lebay sih penilaianku. But, these pictures are really great, dia mengambil foto itu ala candid dengan berbagai objek di museum ini dan tentunya disana ada aku sebagai salah satu objeknya. Baru kali ini aku lihat foto yang begitu ‘hidup’ walau hanya berupa benda-benda dan hanya satu objek hidup yang terkadang hanya menjadi penyeimbang dari foto itu. Tanganku terus saja mengklik foto-foto itu dan tiba-tiba saja hidungku disentuh oleh jarinya “serius amat ngeliatin fotonya” katanya sambil senyum jahil. Aku mendongak kaget dan senyum nyengir didepannya. “bagus-bagus banget ini Harris… aku suka liatnya”

“syukurlah kalau kamu suka, walau ga banyak muka kamu disitu”

“hehehe iya gapapa kok, ikhlas kok aku. Kamu itu berbakat jadi fotografer professional loh”

“Oh ya? Aku sih hobi aja, kebetulan ada yang minta jasa aku juga sih, ya lumayan buat jajan”

“tuh kan, orang lain juga mengakui foto kamu tuh bagus-bagus, you should seriously learn about that” “of course I will dear, I love doing it”

“That’s good” kataku masih sambil meng-klik kameranya untuk melihat foto-foto yang masih tersisa.

***

Salah satu hal yang menyenangkan saat menjadi anak kuliahan adalah tentunya mengisi waktu kosong antara jadwal kuliah. Tentu saja menjadi waktu yang menyenangkan bersama teman dekat, yeah of course teman-teman cewe yang jadi gerombolan aku sehari-hari. “eh Tik, kemarin gue mau kerumah lu, terus gue liat ada mobil sedan Mitsubishi dengan tangan melambai-to say bye to you-yang lagi berdiri depan pager rumah lo, nah siapa tuh isi mobilnya?” celetuk si Fany yang beneran gamblang banget nanya dan menceritakan sebagai saksi mata dari Tempat Kejadian Perkara dirumahku kemarin.

Waduh, kok dia bisa liat sih, mesti jawab apa ini sekarang ohh GOD…

*bersambung*

Jatuh Hati

Dia ada disana, berjalan pelan diiringi temannya, melewati koridor gedung A, mereka sepertinya membicarakan sepakbola semalam yang sedang ramai, dia hanya tersenyum simpul, melihat kedua temannya saling ejek klub sepakbola yang berbeda. Aku tahu, kamu tak terlalu maniak bola, sesuatu yang membuatmu tertarik adalah fotografi. Aku menyadarinya saat kau membawa kamera waktu itu, kau membidik setiap arah, mencoba lensa barumu. Dan kemudian kau melihat kearahku, aku yang berpura membaca novel, terkesiap melihat kameramu mengarah padaku. Novel yang kupegang langsung kuangkat tinggi menutupi wajahku. Selama beberapa menit aku terus berpose seperti itu. Namun setelah kuintip dari balik novel, kau tidak lagi mengarahkan kamera, tetapi kau menengok ke arah tempatku duduk dimeja ujung dekat gedung F. Mau tak mau wajahku memerah dan tanganku mulai menggaruk kepala yang tidak terasa gatal, langsung saja aku sambar novel yang ada dimeja, mencoba menutupi wajahku yang memerah. Ternyata ia tak melihatku, kameranya terlalu tinggi untuk membidik diriku, akhirnya aku sadar dia mengarahkan kamera ke bunga bugenvile diatasku, memang sedang bermekaran begitu cantik, dengan warna pink menyala diantara hijaunya dedaunan. Ah iya, tentu saja dia tak kan melewatkan objek yang sebagus itu. Sejak itu aku menyadari kamu memang menyukai dunia fotografi.

Mereka duduk di kantin bergabung dengan anak kelas lainnya, dia lebih memilih mendekati Irfan, teman sepermainannya yang juga menyukai foto, mereka membicarakan camera, lensa, tripod untuk keperluan hobi mereka, merencanakan waktu dan acara yang pas untuk memotret. Dari mana aku bisa tahu? tentu saja berkat bu Santi yang selalu mendengarkan percakapan mereka di depan konter makanan miliknya. Bu Santi ternyata memperhatikan bahwa aku selalu memandangnya dengan berbeda, selalu menggodaku agar segera mengatakan padanya saja. Tentu saja aku menolaknya dengan segera, tidak mungkinlah wanita mengatakannya lebih dahulu, kilahku saat ditodong seperti itu.

Ah sudahlah, hari ini sudah cukup aku mengamati, memandang dan mengaguminya. Sudah cukup menyenangkan bagiku melihatnya hari ini. Selanjutnya aku harus ke perpustakaan MIPA, mencari referensi untuk laporan praktikumku minggu depan. Langkahku ringan menuju jalan setapak ke perpustakaan, angin semilir membuatku berjalan perlahan dan menikmatinya. Aku menengok ke kanan dan kiri, pagi ini jalan setapak sepi, belum ada mahasiswa lain yang lewat sini, sinar matahari sedang hangat menyinari jalan ini. Aku merentangkan tangan, berdiri terdiam di tengah jalan setapak ini, menutup mata, bernafas dengan perlahan, kuhirup udara pagi hangat dari sekitarku, pohon rimbun disekitarku benar-benar menghasilkan oksigen yang segar untuk paru-paruku, kakiku perlahan melangkah berputar, terus berputar, perlahan berhenti dengan membuka mata perlahan dan kudapati dia disana. Diujung jalan sana, mengarahkan kamera ke diriku. Jaraknya masih sepuluh meter dibelakangku. Tapi aku tahu itu dia. Kemera itu tetap didepan wajahnya, tangannya asik memencet tombol kamera membidikku. Jantungku berdegup lebih kencang, badanku kaku dan tiba-tiba saja aku menunduk, tanganku menutupi wajah merahku yang seperti tomat merah, dia menurunkan kamera dari depan wajahnya saat aku mulai menurunkan tangan yang menutup wajahku. Dia… tersenyum, manis, sangat manis, dan aku tersentak dengan senyum itu. Wajahku yang kaku mulai melunak dan ikut tersenyum melihat dirinya.

“Moment yang sangat tidak boleh dilewatkan, kamu cocok dengan moment ini” katanya sembari mengadahkan kepala melihat sekeliling kami, pohon-pohon tinggi disamping jalan setapak kecil ini, dengan sinar matahari yang menyelip masuk ke sela daun-daun mereka hingga akhirnya sinarnya menyentuh kulit kami dengan lembut, udara yang hangat dan segar pagi ini membuat siapa saja yang melewati jalan ini bernafas lebih santai dan menyenangkan.

Aku menganggukan kepala. “mungkin begitu”

“lebih dari mungkin, memang cocok” dia mulai berjalan mendekatiku, delapan meter, lima meter dan berada dihadapanku begitu dekat. Menatap mataku dengan mata coklatnya yang teduh, wangi tubuhnya tercium bersamaan dengan angin yang berhembus ke arahku. Aku menatap mata itu, mengadahkan kepala lebih tinggi dari biasanya, dia ternyata lebih tinggi dari perkiraanku. Matanya begitu teduh dan dalam, dia tersenyum kembali dan aku seperti semakin tersihir olehnya. Bersedia melakukan apa saja asalkan bisa terus memandang mata coklat yang teduh ini, aku tersenyum kagum dan jantungku berdegup lebih kencang lagi. Wajahnya begitu dekat, wangi tubuhnya, hingga tegap dadanya ada disini, dihadapanku. Apa aku mimpi? Jika iya, tolonglah Tuhan jangan bangunkan aku dari mimpi ini. “Boleh aku foto kamu lagi di lain waktu?” dia membuka suara.

Apa aku tak salah dengar? Apa mungkin ini halusinasiku yang sudah sangat parah? Mataku berkedip-kedip. Mulai sadar bahwa ini bukan mimpi ataupun halusinasiku semata. Ini nyata, dia memintaku untuk menjadi objek fotonya.

“bo..boleh aja” jawabku tergagap setelah sadar oleh sihir dirinya.

“kalau begitu boleh aku minta nomor teleponmu? Akan kuhubungi untuk waktu dan lokasinya”

“IYA, TENTU SAJA” kataku sambil menutup mulut yang sudah terlanjur berkata sangat jujur ini.

Dia tertawa pelan, mengambil ponselnya dan siap mencatat nomorku.

“baiklah sampai nanti ya, akan kuhubungi nanti” sahutnya sembari berjalan mundur beberapa langkah, menundukkan badan padaku dan mulai balik badan.

Ekspresi yang bisa kutunjukkan hanya mulut ternganga dan akhirnya tersenyum meringis. Aku masih terdiam di jalan itu, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Kucubit pipiku sendiri, aaaww terasa sakit. Jadi ini benar-benar bukan mimpi.

Aku tersentak dengan getaran di kantong celana jeansku. Ternyata ponselku bergetar, ada yang menghubungiku. Cepat-cepat aku angkat tanpa melihat siapa yang menelepon “Halo?”

“Halo halo aja sih Tikaaaa, kemana aja sih, buruan, kita udah di perpus MIPA nih”

“eh uh oh, iya iya gue kesana sekarang kok” jawabku gelagapan. “Ya udah cepetan Tik” “oke oke”

Kok aneh sih, temen-temen udah sampai cepet banget ke perpus, uh.. baru juga sebentar aku ketemu dia, Harris. Aku seperti kesetrum, kepala menggeleng-geleng cepat dan senyum-senyum geli sendiri, aahh semoga yang tadi adalah pertanda baik. Aku langsung berlari kencang ke arah perpustakaan.

“ooooiiii” teriak Mila kedepan wajahku sambil mengibaskan tangannya. Aku seperti tersadarkan kembali ke Bumi, setelah sebelumnya aku berada di khayangan dan duduk berdua dengan Harris di meja candle light dinner, menikmati makan malam kami berdua yang begitu enak, serta tentu saja dengan mata coklatnya yang teduh, senyumnya yang mengembang hanya untukku. Mataku berkedip-kedip sambil tersenyum kesemua temanku.

“waahh ga beres nih anak”

“eh lu nyimak ga sih? Lu kebagian Biokimia pemeriksaan darah, gimana mau ga?”

“hah, iya gapapa” jawabku masih dengan tatapan penuh arti ke arah bangku kosong dimeja seberang.

“ok kalo gitu Tik, kita kumpul lagi lusa ya, kalau ada yang perlu bantuan jangan lupa segera japri”

“Oke Fan”

Akhirnya jadwal hari ini usai dengan Praktikum Analisa Pangan, yang tersisa adalah mengolah data praktikum. Huff semangat Tikaaa.. pikiranku meneriakkan nama sendiri, salah satu cara membangkitkan mood untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah tanpa henti ini. Baiklah, alat perlengkapan sudah siap, saatnya mulai mengerjakan sesuai prioritas deadline tugas. Ponselku bergetar-getar diatas buku yang berserakan dikasurku. Aku langsung menyambarnya. “halo”

“hai, ini Harris”

“Ah Iya… Hai juga”

“sori yah gangguin kamu malem begini”

“its okay kok” jawabku dengan suara setenang mungkin dan sambil senyum-senyum diatas kasur bertumpuk dengan buku-buku literature laporan praktikumku. Ya Tuhan.. jantungku berdetak kencang sekaliii…

“umm.. weekend ini aku mau motret, kamu ikut ya? Maksudnya ikut untuk jadi modelnya”

“oh hari apa ya?” “Sabtu ini? Ada jadwal kuliah?” “ga ada sih, sengaja aku kosongin buat liburan” duh jawabanku kenapa jujur banget begini sih? Disana dia tertawa renyah. “oke kalau begitu, aku jemput kamu dirumah ya, sekitar jam 9” “eh? Dirumah aku?” “iya, boleh kan sekalian main kerumah kamu?”

“hehehe boleh aja” BOLEH BANGET HARRIS!! Oke fix, sepertinya jantungku perlu operasi, detaknya terlalu kencang dan hampir keluar dari badan ini. Senyumku makin lebar dan aku mulai memilin-milin rambut sambil tiduran diatas kasur. Aku melihat kupu-kupu keluar dari dinding kamarku yang hijau ini, dari perutku seperti mengalir sesuatu yang sangat menyenangkan, hingga aku semakin menikmatinya.

*bersambung*

Terinspirasi dari Lagu “Jatuh Hati” oleh Raisa

Love is A Verb

Terinspirasi oleh lagu John Mayer-Love is A Verb

 

Satu tangan Mila menopang dagunya, pandangannya menatap ke arah jendela bening yang telah tertutup debu, melihat matahari yang kian tenggelam detik demi detik. Lilin dimejanya menari-nari tertiup angin senja, meja diseberang dan sekitarnya menatap kosong, terdengar samar pengamen menyanyikan sebuah lagu di meja paling ujung. Apa yang seharusnya ia lakukan, disaat seperti ini, yang terjadi justru pikirannya kosong, ia terus mencoba berkonsentrasi, menemukan jalan agar sesuatu dalam otaknya dapat membantu ia menghadapi situasi seperti ini. Pandangan Mila terhalang oleh sesuatu dimatanya, ia merasakan pipinya hangat dan bulir air itu jatuh, hidungnya memerah, nafasnya tersenggal dan ia tak dapat berpikir lagi. Beberapa orang mengatakan, akan sangat lebih baik jika dibuktikan, dan sekarang Riskie membuktikan itu padanya.

“sudah, jangan begini, ga enak dilihat orang disini”

“……” ia tak bisa bicara, suaranya hilang bersama bulir air yang terus jatuh, mengapa ia hanya bisa seperti ini?

 

Tangan itu mengusap wajahnya sendiri, tangan yang mengedarai motor untuk dapat bertemu dengannya,  ia menghela nafas panjang, Riskie ikut terdiam, entah apa yang dipikirkannya. Matanya kembali menatap Mila, dengan segala rasa ingin memiliki dan tak sanggup lagi melihat Mila seperti ini. Beberapa mengatakan mata adalah jendela hati seseorang, matanya tak dapat lagi berpaling, dia benar-benar belum bisa melupakan semua yang pernah dilalui bersama dengan Mila.

 

Mila menghela nafas panjang, merapikan duduknya, menurunkan tangan yang menopang dagu, kembali menatap ke depan. Melihat Riskie didepannya, duduk ditengah lampu remang dari restoran. Ia mengambil tisu dari tasnya, mengusap pipi dan matanya. Ia mencoba meneguk minuman didepannya. Jus jeruk itu melewati tenggorokannya, namun ia tetap merasakan kering. Hanya helaan nafas panjang yang tetap keluar dari mulutnya. Untuk kesekian kalinya, mereka pergi bersama. Keinginan untuk pergi itu tetap ada, saat itu dan sekarang mungkin yang ia butuhkan adalah penawar rasa sakitnya, sementara sayang dan cinta bukanlah obat, bukan sesuatu yang hanya bisa didengar, bukan suatu yang bisa diteriakan kepada seluruh dunia.

 “Sekarang bisakah kamu jawab pertanyaan aku dengan jujur?”

“pertanyaan apa?”

“menurut kamu, suatu hubungan harus disimpan rapat-rapat ataukah bisa dilihat oleh orang terdekat kita? Maksud aku, bukan sebuah hal yang rahasia”

“tentunya menurut aku, jangan jadi sebuah rahasia”

“Sekarang bagaimana dengan kita?”

Kita? Aduh, gimana ini yah. Mila meremas celana panjangnya dengan tangan yang ada dibawah meja, dia tak berani menatap Riskie, apa yang harus dilakukan? Mila masih bergelut dengan pikirannya. Dahinya mengkerut dan hanya berani menatap segelas jus jeruk dihadapannya.

 “Mila..?”

“Iya.. hmm… aku…” jawabnya ragu

 ***

“jadi kamu ga tau dia ada disini? Dikota ini?” Tanya mencoba menegaskan kembali jawaban dari Mila.

“iya, aku ga tau dia disini, bukannya aku mau jahat, tapi akupikir ini salah satu hal yang bisa aku lakukan. Berusaha untuk ga kontak dulu sama dia, buat menjaga perasaan aku dan dia juga” ujar Mila sembari duduk disebuah kursi di kantin.

“dan sekarang kamu ada disini, menemani dia yang terbaring di ruang rawat” ujat Tanya sambil menarik kursi disebelah Mila. Kantin itu tidak terlalu ramai, hanya beberapa orang duduk disamping meja yang lain, sebuah kantin kecil, sekitar enam meja dengan kursi disetiap sisinya.

“Kamu makan apa Mil?”

“kamu dulu deh, aku nanti aja”

“hmm.. ya sudah, aku pesenin sekalian buat kamu yah” Tanya langsung menghampiri pemilik kantin dibalik etalase makanan. Dia memesan Soto betawi dan rawon kesukaan Mila, menunjuk beberapa pastel dan martabak mini untuk cemilan.

Tanya kembali duduk didepan Mila yang menopang dagu dengan tangannya. Melihat kearah depan namun pandangannya kosong, Mila yang sering tersenyum dan bicara banyak hal didepannya, tiba-tiba saja menjadi tak banyak bicara, wajahnya datar, senyumnya menghilang, dahinya mengkerut seperti pegawai negeri yang memikirkan tunjangan yang tak kunjung naik. Tanya menggenggam tangan Mila, memutar kepalanya perlahan dan menarik garis bibirnya agar dia tersenyum.

“Ayolah Mil, jangan begini, aku tau kamu merasa bersalah sama dia, tapi kamu juga harus tetap tersenyum supaya dia juga bisa cepat pulih melihat kamu yang menanti dia dengan senyuman”

“iya, Ta… makasih ya” bibir Mila melengkung sedikit, ia mencoba mendengarkan nasihat sahabatnya.

 

“Rawonnya Mba… dan soto betawinya.. silahkan…”

“Iya makasih Mba”

 

“yuk, dimakan dulu, itu Rawon kesukaanmu loh, kayaknya enak tuh, ntar aku ikutan juga cobain yaaa.. kamu harus makan, jangan sampai sakit, nanti siapa yang jaga Riskie, okeh Mila?”

“iyah”

 ***

Wajah tirus, lingkaran coklat gelap dibawah mata, jenggot yang sedikit mulai tumbuh didagunya, rambut hitam dan bibir pucat itu tak kunjung selesai dilihat olehnya. Tangan itu sekarang ditemani oleh infus, tangan yang dulu sering mengendarai motor dan menemaninya ke beberapa tempat. Ia menarik kursi disamping tempat tidur itu, ia meraih tangan Riskie dan menggenggamnya perlahan. Tak sanggup rasanya melihat ia terbaring diatas tempat tidur putih ini.

 

“Mi-la..” suara terbata itu membangunkan Mila dari tidurnya. Ia segera menoleh ke arah suara.

“Ki…. Maafkan aku Ki….”Ia menundukkan kepala dalam, air matanya jatuh lagi.

“Aku ga apa-apa Mila, bentar lagi juga sembuh kok, dan ini semua bukan salah kamu, makasih kamu udah mau nengok aku disini” Riskie berkata pelan.

 

dua kata

“aku kuat”
Nina berdiri didepan cermin, melihat dirinya sendiri, pucat, mata sayu, rambut sedikit berantakan dan terakhir bibirnya melengkung dengan sedikit bergetar.  Dia mengamati setiap sudut wajahnya, kulit sawo matang khas ras Asia miliknya, mata coklat, alis hitam dan tebal, pipi tembem, serta rambut hitam yang terurai di wajah dan bahunya. “Wajahku ga jelak-jelek amat kok”. Nina merapihkan rambut ikal hitamnya dengan tangan. Dia mengangguk dan  bibir itu melengkung lagi. Tergeletak disamping kasur, handphone Nina berkedip-kedip merah. Dia meraih dan langsung mengnonaktifkan. Aku perlu istirahat, tidur adalah salah satu solusi terbaik saat ini, pikirnya saat itu.
****
“Selamat pagi Mba Nina” “iya selamat pagi Bu” sapaan satpam ruangan membuat pagi ini menjadi lebih baik. Nina membuka pintu ruangan, melangkah meraih remote ac dan menyalakannya, merapikan kalender dan alat tulis di mejanya. Tiga hari lagi Ramadhan, targetku harus tercapai untuk Ramadhan ini, pikirnya sambil mengepalkan tangan didepan badan. Meja, alat tulis, komputer, telepon sudah siap menemani Nina menghabiskan hari ini diruang kerjanya.
***
“Keren banget ya sunset-nya” “Keren pake banget ini sih namanya!” Dua orang melihat sinar oranye, jingga, kuning bercampur jadi satu, diujung Barat. Berdiri bersandar pada pagar pinggir balkon gedung. Tawa menyelingi percakapan mereka. Bibir Nina melengkung, senyumnya tak bisa disembunyikan lagi. Pikirannya terbenam pada moment itu. Nina teringat saat dimana dia bisa melihat matahari terbenam bersamanya. Ahhh… andai saja dia masih di tempat ini. Nina melirik jam tangannya, tanpa disadari sudah hampir jam makan siang, otaknya penuh dengan order, faktur, permintaan obat dan alkes lainnya. “huufff….” Sudah cukup rasanya dia berdiri di balkon gedung, memandangi langit siang, tertutup awan mendung, matahari enggan muncul siang itu. Balkon yang menjadi tempat favorit dia memecah kepenatan yang sering dialaminya. Langkah Nina enggan meninggalkan balkon, dengan gontai dia memasuki pintu dan menuju lift. “TIIING…” Pintu lift terbuka dilantai dimana dia seharusnya sejak tadi berjibaku dengan kertas, komputer dan telepon.
“Mba Nina, ada paket untuk Mba” “hah? Paket apa Bu?” Satpam memberikan satu bucket mawar putih, cantik dengan hiasan pita pink pastel, kertas pembungkus putih dan krem yang menyelimuti mawar itu. Nina terdiam dan terbengong-bengong di depan pintu lift. “dddaaari siapa Bu?” Nina tergagap bertanya kepada Ibu Satpam. “itu mba, toko bunga yang kirim, kata yang antar, ini buat Mba Nina, tapi yang kasih bunga ga ngasih nama” Ibu Satpam menjelaskan dengan panjang lebar. Mata Nina terkejap sambil memegang bucket bunga mawar putih besar itu.
Siapa? Siapa? Siapa yang kirim ini? Nina berkata dalam hati dengan kening berkerut-kerut dan mata terkejap.
“Ciee Nina dapet bunga mawar…. Aiiihh romantis banget tuh yang ngirim, siapa tuh Nin?”
“Hah? Ga tau Pak. Aku juga bingung nih, siapa yah?” Nina malah balik bertanya pada atasannya.
“ya udah disimpen di vas aja dulu, biar awet bunganya. Bagus buat pemandangan di meja”
“iiiya Pak” Nina masih terbata menjawab pertanyaan tentang bucket bunga itu.
Ah, ga mungkin dia yang kirim. Sudah berbulan-bulan dia tak menyapa, mana mungkin tiba-tiba membelikan bunga seperti ini. Kening Nina berkerut, mulut terkatup dan masih memandangi bunga mawar itu di mejanya.
“Cie secret admirer akhirnya kirim bunga juga tuh Nin” komentar Bowo dengan mengedipkan mata didepan muka Nina.
“Apaan sih lo, siapa juga yang miara secret admirer”
“ngaco lo, secret admirer dipiara” Bowo tertawa terbahak sambil duduk didepan meja Nina. “Wah gue makin tersingkir dari hati lo dong Nin..” Celetuk Bowo dengan tubuh gontai dan muka cemas.
“Gue yakin, pasti bukan lu yang kirim bunga ini kan?” Tanya Nina sambil menunjuk muka Bowo yang duduk didepan mejanya. “Yaiyalah, klo gue mau ngasih, mendingan gue langsung bawa kedepan muka lu” Jawab Bowo yang ga mau dituduh sebagai pelaku pengirim bunga.
“ya udah kalo bukan lu, sana pergi, gue mau kerja lagi!” Nina menjawab dengan sewot dan mengusir Bowo.
Sekarang bulan Juli kan? Nina mengambil kalender dan memastikan tanggal. Berarti ulang tahun gue masih lama dan gue ga lagi merayakan sesuatu deh. Jadi buat apa bunga ini? Atau si toko bunga salah kirim kali ya. Nah, bisa jadi begitu, nanti gue cek deh. Nina menggumam sendiri dan mengangguk, dia kembali berkutat dengan aktifiktasnya.
***
“Selamat pagi Mba Nina…” “Iya pagi Bu” “Mba, ini ada paket lagi” “Hah? Lagi?!” jawab Nina dengan kening berkerut dan dagu maju keheranan. GILA, bucket mawar putih lagi?! Satu bucket mawar putih
cantik dengan hiasan pita hijau pastel, kertas pembungkus putih dan krem yang menyelimuti mawar itu berada dalam genggaman Nina. Harum khas mawar memenuhi indra penciuman Nina pagi itu dan lagi-lagi tanpa nama pengirim. Hari ini benar-benar harus gue cek ke toko bunganya. Bener ga sih buat gue. Nina mengucapkan terima kasih pada Bu satpam dan berjalan dengan enteng ke ruangannya.
“Halo, dengan Indah Florist?” “Iya betul bu, ada yang bisa kami bantu?”
“saya Nina, kemarin dan hari ini saya dapat kiriman mawar putih dari tokonya Mba, beneran ini buat saya? Pengirimnya siapa yah?”
“nggg… Sebentar ya Bu saya cek” si penerima telepon membalik kertas dan kembali menjawab “Iya memang benar untuk Ibu Nina di RS Sejahtera tetapi mohon maaf kami tidak bisa memberikan identitas pengirimnya, ini salah satu bagian pelayanan kami”
“Kok gitu sih Mba? Ini saya Nina penerima bunganya kok Mba…”
“Maaf Ibu, tidak bisa kami beritahukan, Semoga Ibu suka dengan bunga yang kami kirimkan”
“ya udah deh Mba, makasih ya”
“Baik Ibu, Selamat sore” Huuufff…. Nina menghela nafas panjang dan kembali mengkerutkan kening. Siapa sih?
***
“Mba Nina, pagi ini ga ada paket bunga lagi nih kayaknya” Satpam lantai 5 langsung menyapanya begitu melihat Nina keluar dari lift. Nina hanya tersenyum sedikit. Hmmm agak kecewa sih, ya sudahlah, mungkin cuman kerjaan orang iseng aja.
“Nin, balik kerja tungguin gue, 30 menit lagi gue beres nih, bareng keluarnya ya” “oke” Nina menutup telepon, beranjak dari kursi dan menuju toilet lantai 5. “TIINGG…” Terlihat mawar putih dipegang oleh seorang pria pengantar bunga. Kali ini, mawar putih cantik dengan hiasan pita biru muda, kertas pembungkus putih dan krem yang menyelimuti mawar itu. Langkah Nina terhenti didepan lift. Dia terdiam, mematung, tak bergerak dari titik itu. Si pengantar bunga menuju satpam yang sedang duduk, mata Nina tidak beranjak dari bucket mawar itu. Dia pergi, menganggukkan kepala dan kembali masuk lift untuk kembali menjalankan tugasnya. Ibu satpam tersenyum lebar dan menghampiri Nina, “Nih Mba Bunganya” Ibu Satpam menyodorkan bucket mawar itu padanya. Nina tak bergerak, matanya masih takjub, mulutnya ternganga kemudian tersenyum sambil terheran-heran.
“Eh? Lu dapet bunga lagi Nin? Wow orang ini niat banget ngasih bunga yah, jadi penasaran gue, siapa yah yang kirim? Lu udah cek ke toko bunganya? Eh? Kok lu malah diem aja sih?” Sinta yang tiba-tiba berdiri disamping Nina dan menggoyangkan bahunya yang terlihat masih shock menerima bunga itu.
“ehh sadar Nin, gue tunggu didepan lift ya, cepetan beresin tas, udah jam pulang nih, ayo ah” “ugh? Iyah, bentar yah” Nina berlari menuju ruangannya, merapikan barang dan kertas-kertas dimejanya, mengambil tas dan mengunci ruangannya. Mereka turun ke lantai 1 untuk absen dan segera pulang. Saat kembali dari tempat absen, mereka berjalan menuju pintu depan, Nina terhenti, terdiam didepan loby, terbengong menatap sepuluh orang yang masing-masing membawa bucket mawar putih cantik dengan hiasan pita biru muda, kertas pembungkus putih dan krem yang menyelimutinya. Sepuluh orang itu berdiri berbaris rapi didepan Nina, berbalik badan dengan menunjukan satu huruf dipunggung mereka.
M A A F K A N   A K U.
MAAFKAN AKU? Apaaan sih? Ada Apaan ini?
Sepuluh orang itu mendekati Nina dan memberikan bucket mawar itu padanya sambil tersenyum dan berkata “Maafkan dia”
Bagas, berjalan pelan dari depan pintu masuk, dengan kemeja santai biru pastel, celana jeans dan sepatu kets favoritnya, menggenggam satu bucket mawar merah cantik dengan hiasan pita biru pastel, kertas pembungkus putih dan krem yang menyelimutinya. “Aku mohon maaf lahir dan batin yah Nina”
“Kamu? Kamu yang kirim ini semua?” Nina terbata menjawab ucapan Bagas. Nina menyambut bucket mawar merah itu ke tangannya. Mukanya merah, tersenyum lebar, menunduk dalam seperti orang mengheningkan cipta. Bagas sudah berdiri dihadapannya, lelaki yang membuatnya menangis tiga hari yang lalu, sekarang berada didepannya. Laki-laki ini sudah lama ia rindukan, berbulan-bulan dengan segala ego dia menahan dan memendam keinginan untuk menyapa.
“Iya aku yang kirim, aku sadar aku salah, aku hanya ingin minta maaf, apalagi besok kita akan menjalani puasa, itu aja Nina”
“Iya, aku juga minta maaf yah”

Nina menatap wajah itu, Laki-laki tinggi ini tetap sama, kulit cerah, rambut hitam, kacamata coklat dan mata yang selalu Nina rindukan. Bibir Nina melengkung dengan indah. Suatu sore menjelang Ramadhan yang menyenangkan.