Si Centil

Image

One of my best friend in the office. Dengan potongan rambutnya yang baru dia selalu dan harus mau direpotkan oleh medrep yang menghampiri atau saat sudah dirumahpun selalu dihubungi untuk masalah obat dan alkes rs. Tetapi dia selalu ada waktu untuk aku. Dia menjadi orang nyaman untuk bercerita, tanpa menghakimi, tanpa menyudutkan, tanpa imbalan apa-apa (gretongan gitu deh). Hahaha.. Aku bersyukur ada dia disini dan syukurlah kami bisa dekat. Sedekat manusia dengan handphone yang tak pernah lepas. Ihiiyyy…

12 September 2013 pukul 16.57 Bogor

Kakek dengan daun singkong

Sore sudah menjelang dan dia terus berjalan menyusuri komplek-komplek perumahan. Hanya tinggal beberapa ikat daun singkong yang dijual. Dia pun menyusuri ruko-ruko dan toko serta jalan-jalan yang ramai dilalui orang, berharap ada yang melihat dagangan daun singkong hasil kebunnya dekat rumah. Kakek itu terus berjalan dan tersenyum menawari daun singkong yang digenggamnya. Senyum yang terlihat miris, karena dia tersenyum dengan gigi yang ompong dan mengingat rambutnya yang sudah memutih dan dia terus berjalan. Daun singkong yang dia petik dari kebun yang tak jauh dari rumahnya. Semoga saja daun singkong yang dia bawa tak tersisa dan membawa hasil yang cukup memuaskan untuk keluarganya.

Kegigihan demi sebuah kebahagiaan untuk keluarga kecilnya. dia akan terus berjalan, melakukan usaha semampunya.

11 September 2013 pukul 17.08, Cibinong, Bogor

Batu Hitam

Dia tak lagi menulis, dia tak lagi menangis, dia hanya terdiam melihat batu dihadapannya. Batu hitam bertuliskan nama adiknya, masih mengkilap, dengan sedikit debu. Dia hanya tertunduk. Mungkin sudah habis air matanya. Dengan lutut menyentuh batu itu, dia mengangkat tangannya, berdoa untuk orang terakhir dalam keluarganya. Hanya meminta yang terbaik untuk satu-satunya adik lelaki yang ia miliki.

“Rissa, mari kita pulang nak.” Ajak Bu Lani
“….” Rissa masih lemah, mengusap kembali batu hitam itu. Kini ia benar-benar harus berdiri, menapaki hidup yang tersisa. Tangannya penuh debu, ia terus mengusap batu itu. Terdiam dan akhirnya mengangguk pada Bu Lani. Mereka berjalan menjauhi batu itu. Rissa memeluk dirinya yang masih belum yakin benar bahwa ia sekarang benar-benar harus hadapi semua yg ada dihidupnya ke depan dengan sendirian. 
“Rissa, nanti kamu ikut ibu yah, kamu bisa tinggal dengan ibu, gak usah sungkan, ibu senang kalau kamu bisa ikut ibu”
“Saya pikirkan dulu ya bu” ia mencoba mengukir senyum walau pahit.
“Ya sudah kalau begitu, mari ibu antarkan ke rumah kamu yah”
“Iya bu, terimakasih”

Pintu coklat, cat tembok abu-abu, pagar krem, lantai putih dan kursi kayu tua milik keluarganya, hanya menjadi sebuah saksi dia pernah punya keluarga.

“Nanti kita cat warna apa bagusnya yah ris?”
“Abu-abu bu.. Warna yang hangat, aku rasa itu cocok”
“Begitu yah, nanti kita cari varian abu-abu yang bagus yah”

“Yah, aku mau cobain dong”
“Oh boleh nih, sini ayah ajarin, ini yang searah, terus dilapisin lagi, kalau yang ini mendatar mulainya, searah juga, coba deh”
“Oke yah, aku cobain yak, ayah mau ke mesjid kan? Aku gantiin sebentar ngecatnya yah?”
“Ya udah, ayah tinggal dulu ya”

“Jangan gitu bu.. Nanti orangnya stress kalau ditanyain gitu terus, nanti ada saatnya kok”
“Iya kan ibu cuma ngomong aja ki”
“Iya, tapi jangan terus-terusan, kan kasian si kakak”
“Iya iya, ya udah”

Dia terduduk, tersedu, sudut matanya  basah, hujan deras. Dia tak tahan teringat percakapan dengan ayah, ibu dan adiknya.
Kesendirian itu mulai melingkupinya. Rissa tertatih untuk sadar dan mengusap semua air matanya. Sepertinya pergi dari rumah ini adalah salah satu solusi. Rissa segera merapikan pakaian dan barang-barangnya. Dia menelpon Ibu Lani, mengatakan akan segera jalan menuju rumahnya. Dia mengambil kunci dan gembok rumah. Menutup pintu dan pagar itu dan menguncinya. Rumah itu kesepian, tanpa penghuninya lagi.

Love is A Verb

Terinspirasi oleh lagu John Mayer-Love is A Verb

 

Satu tangan Mila menopang dagunya, pandangannya menatap ke arah jendela bening yang telah tertutup debu, melihat matahari yang kian tenggelam detik demi detik. Lilin dimejanya menari-nari tertiup angin senja, meja diseberang dan sekitarnya menatap kosong, terdengar samar pengamen menyanyikan sebuah lagu di meja paling ujung. Apa yang seharusnya ia lakukan, disaat seperti ini, yang terjadi justru pikirannya kosong, ia terus mencoba berkonsentrasi, menemukan jalan agar sesuatu dalam otaknya dapat membantu ia menghadapi situasi seperti ini. Pandangan Mila terhalang oleh sesuatu dimatanya, ia merasakan pipinya hangat dan bulir air itu jatuh, hidungnya memerah, nafasnya tersenggal dan ia tak dapat berpikir lagi. Beberapa orang mengatakan, akan sangat lebih baik jika dibuktikan, dan sekarang Riskie membuktikan itu padanya.

“sudah, jangan begini, ga enak dilihat orang disini”

“……” ia tak bisa bicara, suaranya hilang bersama bulir air yang terus jatuh, mengapa ia hanya bisa seperti ini?

 

Tangan itu mengusap wajahnya sendiri, tangan yang mengedarai motor untuk dapat bertemu dengannya,  ia menghela nafas panjang, Riskie ikut terdiam, entah apa yang dipikirkannya. Matanya kembali menatap Mila, dengan segala rasa ingin memiliki dan tak sanggup lagi melihat Mila seperti ini. Beberapa mengatakan mata adalah jendela hati seseorang, matanya tak dapat lagi berpaling, dia benar-benar belum bisa melupakan semua yang pernah dilalui bersama dengan Mila.

 

Mila menghela nafas panjang, merapikan duduknya, menurunkan tangan yang menopang dagu, kembali menatap ke depan. Melihat Riskie didepannya, duduk ditengah lampu remang dari restoran. Ia mengambil tisu dari tasnya, mengusap pipi dan matanya. Ia mencoba meneguk minuman didepannya. Jus jeruk itu melewati tenggorokannya, namun ia tetap merasakan kering. Hanya helaan nafas panjang yang tetap keluar dari mulutnya. Untuk kesekian kalinya, mereka pergi bersama. Keinginan untuk pergi itu tetap ada, saat itu dan sekarang mungkin yang ia butuhkan adalah penawar rasa sakitnya, sementara sayang dan cinta bukanlah obat, bukan sesuatu yang hanya bisa didengar, bukan suatu yang bisa diteriakan kepada seluruh dunia.

 “Sekarang bisakah kamu jawab pertanyaan aku dengan jujur?”

“pertanyaan apa?”

“menurut kamu, suatu hubungan harus disimpan rapat-rapat ataukah bisa dilihat oleh orang terdekat kita? Maksud aku, bukan sebuah hal yang rahasia”

“tentunya menurut aku, jangan jadi sebuah rahasia”

“Sekarang bagaimana dengan kita?”

Kita? Aduh, gimana ini yah. Mila meremas celana panjangnya dengan tangan yang ada dibawah meja, dia tak berani menatap Riskie, apa yang harus dilakukan? Mila masih bergelut dengan pikirannya. Dahinya mengkerut dan hanya berani menatap segelas jus jeruk dihadapannya.

 “Mila..?”

“Iya.. hmm… aku…” jawabnya ragu

 ***

“jadi kamu ga tau dia ada disini? Dikota ini?” Tanya mencoba menegaskan kembali jawaban dari Mila.

“iya, aku ga tau dia disini, bukannya aku mau jahat, tapi akupikir ini salah satu hal yang bisa aku lakukan. Berusaha untuk ga kontak dulu sama dia, buat menjaga perasaan aku dan dia juga” ujar Mila sembari duduk disebuah kursi di kantin.

“dan sekarang kamu ada disini, menemani dia yang terbaring di ruang rawat” ujat Tanya sambil menarik kursi disebelah Mila. Kantin itu tidak terlalu ramai, hanya beberapa orang duduk disamping meja yang lain, sebuah kantin kecil, sekitar enam meja dengan kursi disetiap sisinya.

“Kamu makan apa Mil?”

“kamu dulu deh, aku nanti aja”

“hmm.. ya sudah, aku pesenin sekalian buat kamu yah” Tanya langsung menghampiri pemilik kantin dibalik etalase makanan. Dia memesan Soto betawi dan rawon kesukaan Mila, menunjuk beberapa pastel dan martabak mini untuk cemilan.

Tanya kembali duduk didepan Mila yang menopang dagu dengan tangannya. Melihat kearah depan namun pandangannya kosong, Mila yang sering tersenyum dan bicara banyak hal didepannya, tiba-tiba saja menjadi tak banyak bicara, wajahnya datar, senyumnya menghilang, dahinya mengkerut seperti pegawai negeri yang memikirkan tunjangan yang tak kunjung naik. Tanya menggenggam tangan Mila, memutar kepalanya perlahan dan menarik garis bibirnya agar dia tersenyum.

“Ayolah Mil, jangan begini, aku tau kamu merasa bersalah sama dia, tapi kamu juga harus tetap tersenyum supaya dia juga bisa cepat pulih melihat kamu yang menanti dia dengan senyuman”

“iya, Ta… makasih ya” bibir Mila melengkung sedikit, ia mencoba mendengarkan nasihat sahabatnya.

 

“Rawonnya Mba… dan soto betawinya.. silahkan…”

“Iya makasih Mba”

 

“yuk, dimakan dulu, itu Rawon kesukaanmu loh, kayaknya enak tuh, ntar aku ikutan juga cobain yaaa.. kamu harus makan, jangan sampai sakit, nanti siapa yang jaga Riskie, okeh Mila?”

“iyah”

 ***

Wajah tirus, lingkaran coklat gelap dibawah mata, jenggot yang sedikit mulai tumbuh didagunya, rambut hitam dan bibir pucat itu tak kunjung selesai dilihat olehnya. Tangan itu sekarang ditemani oleh infus, tangan yang dulu sering mengendarai motor dan menemaninya ke beberapa tempat. Ia menarik kursi disamping tempat tidur itu, ia meraih tangan Riskie dan menggenggamnya perlahan. Tak sanggup rasanya melihat ia terbaring diatas tempat tidur putih ini.

 

“Mi-la..” suara terbata itu membangunkan Mila dari tidurnya. Ia segera menoleh ke arah suara.

“Ki…. Maafkan aku Ki….”Ia menundukkan kepala dalam, air matanya jatuh lagi.

“Aku ga apa-apa Mila, bentar lagi juga sembuh kok, dan ini semua bukan salah kamu, makasih kamu udah mau nengok aku disini” Riskie berkata pelan.

 

Jaket

“Yuk ikut mamah” “kemana mah?” “kita jalan-jalan sebentar yah”

Raisa menggenggam tangan ibunya yang telah terulur, dengan bibir masih cemberut, tangan kirinya masih memilin rambut ikal sebahu miliknya, langkah yang dibuat sedikit gontai karena ia merasa lelah berjalan setelah praktek olahraga disekolah. Mereka menaiki angkot yang berhenti dihadapan mereka.

 

“kita mau kemana sih mah?” “sebentar yah, kamu temani mamah kesini”

“uumm” lenguhan nafas panjang yang menyanggupi permintaan Ibunya. Setelah turun dari angkot, mereka menyeberang jalan dan mulai memasuki deretan toko dengan etalase yang berisi tas, sepatu, baju, dan barang lainnya seperti halnya sebuah mall di setiap kota.

“Raisa, sini, kamu pilih yang mana saja, dicoba dulu disana yah, mamah tunggu”

“aku mau yang merah Mba” Raisa menunjuk sebuah jaket kain berwarna merah dan segera mencobanya.

“aku mau yang ini saja” “Ukurannya sudah pas?” “Iya, ini enak kok dipakainya”

“Mba, yang ini saja yah” “Baik, saya siapkan ya Bu”

“ini Raisa, dipakai kalau nanti mendung atau hujan, supaya hangat yah, karena jaket kamu yang hitam itu hilang kemarin, jadi sekarang pakai ini saja yah” “Iya Mah, makasih ya”

 

Raisa terdiam, ia berdiri disamping ibunya, memegang tas plastik berisi jaket merah pilihannya yang baru. Jaket ini keren, aku suka banget sama warna dan modelnya, tapi kenapa mamah…? Raisa teringat sesuatu, mamah memberikan jaket ini karena jaketku yang dipakainya beberapa minggu lalu ke Carrefour, hilang saat diparkiran. YaTuhan, aku bahkan sudah lupa kalau jaket itu telah hilang dan sekarang mamah memberikan jaket baru kepadaku.

Aku yang saat itu sangat kesal, bibir manyun, pipi menggembung, langsung balik badan dan menuju kasur kesayangan, saat aku mengetahui jaketku yang dipinjam mamah untuk naik motor menuju Carrefour itu telah hilang. Mamah bahkan memberikan jaket baru yang lima kali lebih keren dan bagus dibandingkan jaket angkatan sekolah yang hilang itu.

Aahh… aku sayang mamah… dia selalu memberikan yang paling baik untukku. Tak terasa disudut mata Raisa terlihat berkilau dan meneteskan sesuatu yang basah, air mata haru yang tak terbendung. Tak seharusnya aku begitu marah dan kesal kepada mamah, Raisa sadar bahwa ia telah salah bersikap. Bagaimanapun seorang Ibu akan memberikan paling baik untuk anaknya. Raisa memeluk mamahnya.

 

dua kata

“aku kuat”
Nina berdiri didepan cermin, melihat dirinya sendiri, pucat, mata sayu, rambut sedikit berantakan dan terakhir bibirnya melengkung dengan sedikit bergetar.  Dia mengamati setiap sudut wajahnya, kulit sawo matang khas ras Asia miliknya, mata coklat, alis hitam dan tebal, pipi tembem, serta rambut hitam yang terurai di wajah dan bahunya. “Wajahku ga jelak-jelek amat kok”. Nina merapihkan rambut ikal hitamnya dengan tangan. Dia mengangguk dan  bibir itu melengkung lagi. Tergeletak disamping kasur, handphone Nina berkedip-kedip merah. Dia meraih dan langsung mengnonaktifkan. Aku perlu istirahat, tidur adalah salah satu solusi terbaik saat ini, pikirnya saat itu.
****
“Selamat pagi Mba Nina” “iya selamat pagi Bu” sapaan satpam ruangan membuat pagi ini menjadi lebih baik. Nina membuka pintu ruangan, melangkah meraih remote ac dan menyalakannya, merapikan kalender dan alat tulis di mejanya. Tiga hari lagi Ramadhan, targetku harus tercapai untuk Ramadhan ini, pikirnya sambil mengepalkan tangan didepan badan. Meja, alat tulis, komputer, telepon sudah siap menemani Nina menghabiskan hari ini diruang kerjanya.
***
“Keren banget ya sunset-nya” “Keren pake banget ini sih namanya!” Dua orang melihat sinar oranye, jingga, kuning bercampur jadi satu, diujung Barat. Berdiri bersandar pada pagar pinggir balkon gedung. Tawa menyelingi percakapan mereka. Bibir Nina melengkung, senyumnya tak bisa disembunyikan lagi. Pikirannya terbenam pada moment itu. Nina teringat saat dimana dia bisa melihat matahari terbenam bersamanya. Ahhh… andai saja dia masih di tempat ini. Nina melirik jam tangannya, tanpa disadari sudah hampir jam makan siang, otaknya penuh dengan order, faktur, permintaan obat dan alkes lainnya. “huufff….” Sudah cukup rasanya dia berdiri di balkon gedung, memandangi langit siang, tertutup awan mendung, matahari enggan muncul siang itu. Balkon yang menjadi tempat favorit dia memecah kepenatan yang sering dialaminya. Langkah Nina enggan meninggalkan balkon, dengan gontai dia memasuki pintu dan menuju lift. “TIIING…” Pintu lift terbuka dilantai dimana dia seharusnya sejak tadi berjibaku dengan kertas, komputer dan telepon.
“Mba Nina, ada paket untuk Mba” “hah? Paket apa Bu?” Satpam memberikan satu bucket mawar putih, cantik dengan hiasan pita pink pastel, kertas pembungkus putih dan krem yang menyelimuti mawar itu. Nina terdiam dan terbengong-bengong di depan pintu lift. “dddaaari siapa Bu?” Nina tergagap bertanya kepada Ibu Satpam. “itu mba, toko bunga yang kirim, kata yang antar, ini buat Mba Nina, tapi yang kasih bunga ga ngasih nama” Ibu Satpam menjelaskan dengan panjang lebar. Mata Nina terkejap sambil memegang bucket bunga mawar putih besar itu.
Siapa? Siapa? Siapa yang kirim ini? Nina berkata dalam hati dengan kening berkerut-kerut dan mata terkejap.
“Ciee Nina dapet bunga mawar…. Aiiihh romantis banget tuh yang ngirim, siapa tuh Nin?”
“Hah? Ga tau Pak. Aku juga bingung nih, siapa yah?” Nina malah balik bertanya pada atasannya.
“ya udah disimpen di vas aja dulu, biar awet bunganya. Bagus buat pemandangan di meja”
“iiiya Pak” Nina masih terbata menjawab pertanyaan tentang bucket bunga itu.
Ah, ga mungkin dia yang kirim. Sudah berbulan-bulan dia tak menyapa, mana mungkin tiba-tiba membelikan bunga seperti ini. Kening Nina berkerut, mulut terkatup dan masih memandangi bunga mawar itu di mejanya.
“Cie secret admirer akhirnya kirim bunga juga tuh Nin” komentar Bowo dengan mengedipkan mata didepan muka Nina.
“Apaan sih lo, siapa juga yang miara secret admirer”
“ngaco lo, secret admirer dipiara” Bowo tertawa terbahak sambil duduk didepan meja Nina. “Wah gue makin tersingkir dari hati lo dong Nin..” Celetuk Bowo dengan tubuh gontai dan muka cemas.
“Gue yakin, pasti bukan lu yang kirim bunga ini kan?” Tanya Nina sambil menunjuk muka Bowo yang duduk didepan mejanya. “Yaiyalah, klo gue mau ngasih, mendingan gue langsung bawa kedepan muka lu” Jawab Bowo yang ga mau dituduh sebagai pelaku pengirim bunga.
“ya udah kalo bukan lu, sana pergi, gue mau kerja lagi!” Nina menjawab dengan sewot dan mengusir Bowo.
Sekarang bulan Juli kan? Nina mengambil kalender dan memastikan tanggal. Berarti ulang tahun gue masih lama dan gue ga lagi merayakan sesuatu deh. Jadi buat apa bunga ini? Atau si toko bunga salah kirim kali ya. Nah, bisa jadi begitu, nanti gue cek deh. Nina menggumam sendiri dan mengangguk, dia kembali berkutat dengan aktifiktasnya.
***
“Selamat pagi Mba Nina…” “Iya pagi Bu” “Mba, ini ada paket lagi” “Hah? Lagi?!” jawab Nina dengan kening berkerut dan dagu maju keheranan. GILA, bucket mawar putih lagi?! Satu bucket mawar putih
cantik dengan hiasan pita hijau pastel, kertas pembungkus putih dan krem yang menyelimuti mawar itu berada dalam genggaman Nina. Harum khas mawar memenuhi indra penciuman Nina pagi itu dan lagi-lagi tanpa nama pengirim. Hari ini benar-benar harus gue cek ke toko bunganya. Bener ga sih buat gue. Nina mengucapkan terima kasih pada Bu satpam dan berjalan dengan enteng ke ruangannya.
“Halo, dengan Indah Florist?” “Iya betul bu, ada yang bisa kami bantu?”
“saya Nina, kemarin dan hari ini saya dapat kiriman mawar putih dari tokonya Mba, beneran ini buat saya? Pengirimnya siapa yah?”
“nggg… Sebentar ya Bu saya cek” si penerima telepon membalik kertas dan kembali menjawab “Iya memang benar untuk Ibu Nina di RS Sejahtera tetapi mohon maaf kami tidak bisa memberikan identitas pengirimnya, ini salah satu bagian pelayanan kami”
“Kok gitu sih Mba? Ini saya Nina penerima bunganya kok Mba…”
“Maaf Ibu, tidak bisa kami beritahukan, Semoga Ibu suka dengan bunga yang kami kirimkan”
“ya udah deh Mba, makasih ya”
“Baik Ibu, Selamat sore” Huuufff…. Nina menghela nafas panjang dan kembali mengkerutkan kening. Siapa sih?
***
“Mba Nina, pagi ini ga ada paket bunga lagi nih kayaknya” Satpam lantai 5 langsung menyapanya begitu melihat Nina keluar dari lift. Nina hanya tersenyum sedikit. Hmmm agak kecewa sih, ya sudahlah, mungkin cuman kerjaan orang iseng aja.
“Nin, balik kerja tungguin gue, 30 menit lagi gue beres nih, bareng keluarnya ya” “oke” Nina menutup telepon, beranjak dari kursi dan menuju toilet lantai 5. “TIINGG…” Terlihat mawar putih dipegang oleh seorang pria pengantar bunga. Kali ini, mawar putih cantik dengan hiasan pita biru muda, kertas pembungkus putih dan krem yang menyelimuti mawar itu. Langkah Nina terhenti didepan lift. Dia terdiam, mematung, tak bergerak dari titik itu. Si pengantar bunga menuju satpam yang sedang duduk, mata Nina tidak beranjak dari bucket mawar itu. Dia pergi, menganggukkan kepala dan kembali masuk lift untuk kembali menjalankan tugasnya. Ibu satpam tersenyum lebar dan menghampiri Nina, “Nih Mba Bunganya” Ibu Satpam menyodorkan bucket mawar itu padanya. Nina tak bergerak, matanya masih takjub, mulutnya ternganga kemudian tersenyum sambil terheran-heran.
“Eh? Lu dapet bunga lagi Nin? Wow orang ini niat banget ngasih bunga yah, jadi penasaran gue, siapa yah yang kirim? Lu udah cek ke toko bunganya? Eh? Kok lu malah diem aja sih?” Sinta yang tiba-tiba berdiri disamping Nina dan menggoyangkan bahunya yang terlihat masih shock menerima bunga itu.
“ehh sadar Nin, gue tunggu didepan lift ya, cepetan beresin tas, udah jam pulang nih, ayo ah” “ugh? Iyah, bentar yah” Nina berlari menuju ruangannya, merapikan barang dan kertas-kertas dimejanya, mengambil tas dan mengunci ruangannya. Mereka turun ke lantai 1 untuk absen dan segera pulang. Saat kembali dari tempat absen, mereka berjalan menuju pintu depan, Nina terhenti, terdiam didepan loby, terbengong menatap sepuluh orang yang masing-masing membawa bucket mawar putih cantik dengan hiasan pita biru muda, kertas pembungkus putih dan krem yang menyelimutinya. Sepuluh orang itu berdiri berbaris rapi didepan Nina, berbalik badan dengan menunjukan satu huruf dipunggung mereka.
M A A F K A N   A K U.
MAAFKAN AKU? Apaaan sih? Ada Apaan ini?
Sepuluh orang itu mendekati Nina dan memberikan bucket mawar itu padanya sambil tersenyum dan berkata “Maafkan dia”
Bagas, berjalan pelan dari depan pintu masuk, dengan kemeja santai biru pastel, celana jeans dan sepatu kets favoritnya, menggenggam satu bucket mawar merah cantik dengan hiasan pita biru pastel, kertas pembungkus putih dan krem yang menyelimutinya. “Aku mohon maaf lahir dan batin yah Nina”
“Kamu? Kamu yang kirim ini semua?” Nina terbata menjawab ucapan Bagas. Nina menyambut bucket mawar merah itu ke tangannya. Mukanya merah, tersenyum lebar, menunduk dalam seperti orang mengheningkan cipta. Bagas sudah berdiri dihadapannya, lelaki yang membuatnya menangis tiga hari yang lalu, sekarang berada didepannya. Laki-laki ini sudah lama ia rindukan, berbulan-bulan dengan segala ego dia menahan dan memendam keinginan untuk menyapa.
“Iya aku yang kirim, aku sadar aku salah, aku hanya ingin minta maaf, apalagi besok kita akan menjalani puasa, itu aja Nina”
“Iya, aku juga minta maaf yah”

Nina menatap wajah itu, Laki-laki tinggi ini tetap sama, kulit cerah, rambut hitam, kacamata coklat dan mata yang selalu Nina rindukan. Bibir Nina melengkung dengan indah. Suatu sore menjelang Ramadhan yang menyenangkan.

be careful with…

be careful with something you said, it might hurt someone else