Jatuh Hati

Dia ada disana, berjalan pelan diiringi temannya, melewati koridor gedung A, mereka sepertinya membicarakan sepakbola semalam yang sedang ramai, dia hanya tersenyum simpul, melihat kedua temannya saling ejek klub sepakbola yang berbeda. Aku tahu, kamu tak terlalu maniak bola, sesuatu yang membuatmu tertarik adalah fotografi. Aku menyadarinya saat kau membawa kamera waktu itu, kau membidik setiap arah, mencoba lensa barumu. Dan kemudian kau melihat kearahku, aku yang berpura membaca novel, terkesiap melihat kameramu mengarah padaku. Novel yang kupegang langsung kuangkat tinggi menutupi wajahku. Selama beberapa menit aku terus berpose seperti itu. Namun setelah kuintip dari balik novel, kau tidak lagi mengarahkan kamera, tetapi kau menengok ke arah tempatku duduk dimeja ujung dekat gedung F. Mau tak mau wajahku memerah dan tanganku mulai menggaruk kepala yang tidak terasa gatal, langsung saja aku sambar novel yang ada dimeja, mencoba menutupi wajahku yang memerah. Ternyata ia tak melihatku, kameranya terlalu tinggi untuk membidik diriku, akhirnya aku sadar dia mengarahkan kamera ke bunga bugenvile diatasku, memang sedang bermekaran begitu cantik, dengan warna pink menyala diantara hijaunya dedaunan. Ah iya, tentu saja dia tak kan melewatkan objek yang sebagus itu. Sejak itu aku menyadari kamu memang menyukai dunia fotografi.

Mereka duduk di kantin bergabung dengan anak kelas lainnya, dia lebih memilih mendekati Irfan, teman sepermainannya yang juga menyukai foto, mereka membicarakan camera, lensa, tripod untuk keperluan hobi mereka, merencanakan waktu dan acara yang pas untuk memotret. Dari mana aku bisa tahu? tentu saja berkat bu Santi yang selalu mendengarkan percakapan mereka di depan konter makanan miliknya. Bu Santi ternyata memperhatikan bahwa aku selalu memandangnya dengan berbeda, selalu menggodaku agar segera mengatakan padanya saja. Tentu saja aku menolaknya dengan segera, tidak mungkinlah wanita mengatakannya lebih dahulu, kilahku saat ditodong seperti itu.

Ah sudahlah, hari ini sudah cukup aku mengamati, memandang dan mengaguminya. Sudah cukup menyenangkan bagiku melihatnya hari ini. Selanjutnya aku harus ke perpustakaan MIPA, mencari referensi untuk laporan praktikumku minggu depan. Langkahku ringan menuju jalan setapak ke perpustakaan, angin semilir membuatku berjalan perlahan dan menikmatinya. Aku menengok ke kanan dan kiri, pagi ini jalan setapak sepi, belum ada mahasiswa lain yang lewat sini, sinar matahari sedang hangat menyinari jalan ini. Aku merentangkan tangan, berdiri terdiam di tengah jalan setapak ini, menutup mata, bernafas dengan perlahan, kuhirup udara pagi hangat dari sekitarku, pohon rimbun disekitarku benar-benar menghasilkan oksigen yang segar untuk paru-paruku, kakiku perlahan melangkah berputar, terus berputar, perlahan berhenti dengan membuka mata perlahan dan kudapati dia disana. Diujung jalan sana, mengarahkan kamera ke diriku. Jaraknya masih sepuluh meter dibelakangku. Tapi aku tahu itu dia. Kemera itu tetap didepan wajahnya, tangannya asik memencet tombol kamera membidikku. Jantungku berdegup lebih kencang, badanku kaku dan tiba-tiba saja aku menunduk, tanganku menutupi wajah merahku yang seperti tomat merah, dia menurunkan kamera dari depan wajahnya saat aku mulai menurunkan tangan yang menutup wajahku. Dia… tersenyum, manis, sangat manis, dan aku tersentak dengan senyum itu. Wajahku yang kaku mulai melunak dan ikut tersenyum melihat dirinya.

“Moment yang sangat tidak boleh dilewatkan, kamu cocok dengan moment ini” katanya sembari mengadahkan kepala melihat sekeliling kami, pohon-pohon tinggi disamping jalan setapak kecil ini, dengan sinar matahari yang menyelip masuk ke sela daun-daun mereka hingga akhirnya sinarnya menyentuh kulit kami dengan lembut, udara yang hangat dan segar pagi ini membuat siapa saja yang melewati jalan ini bernafas lebih santai dan menyenangkan.

Aku menganggukan kepala. “mungkin begitu”

“lebih dari mungkin, memang cocok” dia mulai berjalan mendekatiku, delapan meter, lima meter dan berada dihadapanku begitu dekat. Menatap mataku dengan mata coklatnya yang teduh, wangi tubuhnya tercium bersamaan dengan angin yang berhembus ke arahku. Aku menatap mata itu, mengadahkan kepala lebih tinggi dari biasanya, dia ternyata lebih tinggi dari perkiraanku. Matanya begitu teduh dan dalam, dia tersenyum kembali dan aku seperti semakin tersihir olehnya. Bersedia melakukan apa saja asalkan bisa terus memandang mata coklat yang teduh ini, aku tersenyum kagum dan jantungku berdegup lebih kencang lagi. Wajahnya begitu dekat, wangi tubuhnya, hingga tegap dadanya ada disini, dihadapanku. Apa aku mimpi? Jika iya, tolonglah Tuhan jangan bangunkan aku dari mimpi ini. “Boleh aku foto kamu lagi di lain waktu?” dia membuka suara.

Apa aku tak salah dengar? Apa mungkin ini halusinasiku yang sudah sangat parah? Mataku berkedip-kedip. Mulai sadar bahwa ini bukan mimpi ataupun halusinasiku semata. Ini nyata, dia memintaku untuk menjadi objek fotonya.

“bo..boleh aja” jawabku tergagap setelah sadar oleh sihir dirinya.

“kalau begitu boleh aku minta nomor teleponmu? Akan kuhubungi untuk waktu dan lokasinya”

“IYA, TENTU SAJA” kataku sambil menutup mulut yang sudah terlanjur berkata sangat jujur ini.

Dia tertawa pelan, mengambil ponselnya dan siap mencatat nomorku.

“baiklah sampai nanti ya, akan kuhubungi nanti” sahutnya sembari berjalan mundur beberapa langkah, menundukkan badan padaku dan mulai balik badan.

Ekspresi yang bisa kutunjukkan hanya mulut ternganga dan akhirnya tersenyum meringis. Aku masih terdiam di jalan itu, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Kucubit pipiku sendiri, aaaww terasa sakit. Jadi ini benar-benar bukan mimpi.

Aku tersentak dengan getaran di kantong celana jeansku. Ternyata ponselku bergetar, ada yang menghubungiku. Cepat-cepat aku angkat tanpa melihat siapa yang menelepon “Halo?”

“Halo halo aja sih Tikaaaa, kemana aja sih, buruan, kita udah di perpus MIPA nih”

“eh uh oh, iya iya gue kesana sekarang kok” jawabku gelagapan. “Ya udah cepetan Tik” “oke oke”

Kok aneh sih, temen-temen udah sampai cepet banget ke perpus, uh.. baru juga sebentar aku ketemu dia, Harris. Aku seperti kesetrum, kepala menggeleng-geleng cepat dan senyum-senyum geli sendiri, aahh semoga yang tadi adalah pertanda baik. Aku langsung berlari kencang ke arah perpustakaan.

“ooooiiii” teriak Mila kedepan wajahku sambil mengibaskan tangannya. Aku seperti tersadarkan kembali ke Bumi, setelah sebelumnya aku berada di khayangan dan duduk berdua dengan Harris di meja candle light dinner, menikmati makan malam kami berdua yang begitu enak, serta tentu saja dengan mata coklatnya yang teduh, senyumnya yang mengembang hanya untukku. Mataku berkedip-kedip sambil tersenyum kesemua temanku.

“waahh ga beres nih anak”

“eh lu nyimak ga sih? Lu kebagian Biokimia pemeriksaan darah, gimana mau ga?”

“hah, iya gapapa” jawabku masih dengan tatapan penuh arti ke arah bangku kosong dimeja seberang.

“ok kalo gitu Tik, kita kumpul lagi lusa ya, kalau ada yang perlu bantuan jangan lupa segera japri”

“Oke Fan”

Akhirnya jadwal hari ini usai dengan Praktikum Analisa Pangan, yang tersisa adalah mengolah data praktikum. Huff semangat Tikaaa.. pikiranku meneriakkan nama sendiri, salah satu cara membangkitkan mood untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah tanpa henti ini. Baiklah, alat perlengkapan sudah siap, saatnya mulai mengerjakan sesuai prioritas deadline tugas. Ponselku bergetar-getar diatas buku yang berserakan dikasurku. Aku langsung menyambarnya. “halo”

“hai, ini Harris”

“Ah Iya… Hai juga”

“sori yah gangguin kamu malem begini”

“its okay kok” jawabku dengan suara setenang mungkin dan sambil senyum-senyum diatas kasur bertumpuk dengan buku-buku literature laporan praktikumku. Ya Tuhan.. jantungku berdetak kencang sekaliii…

“umm.. weekend ini aku mau motret, kamu ikut ya? Maksudnya ikut untuk jadi modelnya”

“oh hari apa ya?” “Sabtu ini? Ada jadwal kuliah?” “ga ada sih, sengaja aku kosongin buat liburan” duh jawabanku kenapa jujur banget begini sih? Disana dia tertawa renyah. “oke kalau begitu, aku jemput kamu dirumah ya, sekitar jam 9” “eh? Dirumah aku?” “iya, boleh kan sekalian main kerumah kamu?”

“hehehe boleh aja” BOLEH BANGET HARRIS!! Oke fix, sepertinya jantungku perlu operasi, detaknya terlalu kencang dan hampir keluar dari badan ini. Senyumku makin lebar dan aku mulai memilin-milin rambut sambil tiduran diatas kasur. Aku melihat kupu-kupu keluar dari dinding kamarku yang hijau ini, dari perutku seperti mengalir sesuatu yang sangat menyenangkan, hingga aku semakin menikmatinya.

*bersambung*

Terinspirasi dari Lagu “Jatuh Hati” oleh Raisa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: