Without You

Koridor itu putih, seperti mukaku yang selalu putih pucat saat bertemunya. Dia tidak tersenyum, juga tidak menoleh padaku. Tetapi tetap saja aku memucat saat melihat sosoknya dikejauhan, berjalan melintasi koridor menuju lorong putih selanjutnya. Dadaku bergedup kencang. Aku yang berada disisi lain koridor, menoleh, terdiam dan tanpa kedip melihat dirinya melintasiku. Ternyata dia telah masuk. Ini adalah hari pertama aku melihatnya setelah dia cuti selama seminggu lebih. Dia tetap sama, badannya yang tinggi, parasnya yang segar, serta tentu saja keramahannya terhadap semua orang. Dia menyapa seorang perempuan yang berpasan dengannya di pintu menuju lorong itu. Perlahan aku menarik nafas panjang, mengedipkan mata, mengembangkan senyum. Semua terlihat lebih cerah sekarang, tiap detik waktu terasa begitu menyenangkan, langkah kaki terasa nyaman, perutku bergejolak seperti ada kupu-kupu yang siap berterbangan dari diriku. Efek selanjutnya tentu saja adalah aku tersenyum cerah ke setiap orang berpasan denganku.

“Siang mba Nina…”

“Hai.. siang juga ibu..” senyumku merekah seperti bunga sepatu yang baru saja bermekaran.

“lagi seneng nih kayaknya hari ini”

“hehehe… begitulah bu” aku terus tersenyum senang.

Aku masuk ruangan dengan senyum cerah, kuputar lagu-lagu menyenangkan, sedikit bergumam sembari aku membereskan buku-buku di lemari perpustakaan ini.

tok tok…

Terdengar pintu diketuk, aku terkejut melihatnya. Dia ada disana, hendak masuk keruanganku. Membuka pintu dan dengan senyum ramahnya dia menghampiriku.

“ini untuk kamu”

“eh? Aku? Ugghh.. umm.. makasih yah, jadi ngerepotin” kataku terbata sembari menerima pemberiannya

“ah ga kok, cuman oleh-oleh aja dari sana, kan kamu minta kemarin”

“iya sih, tapi becanda aja kok, ga maksud buat ngerepotin gini”

“ga apa-apa kok, nih” dia menyodorkan bingkisan oleh-oleh khas Makassar “pergi dulu ya”

“oke” seruku dengan senyum mengembang

 

Dia kasih aku oleh-oleh? Karena aku iseng minta via bbm kemarin? Ini sungguh nyatakah? Aku mencubit-cubit pipi sendiri, menatap cermin dihadapanku, hingga akhirnya senyum-senyum dan loncat-loncat di toilet kantor. Seminggu lebih aku seperti zombie yang datang untuk bekerja, berjalan dengan berat, pucat tanpa senyum, suram dan murung. Itu semua karena dirinya sedang tak ada disini. Tapi… apakah dia merasakan hal yang sama ya? Hari-hari terasa berat dijalani, waktu semakin lambat ditiap detik yang berjalan, hingga langitpun menjadi gelap saat tak bertemu. Entahlah apa yang dirasakannya, aku hanya ingin terus merasakan sensasi menyenangkan ini, kupu-kupu yang keluar dari tubuhku, pelangi disetiapku melihat, angin lembut yang segar setiapku melangkah kesini, ke Rumah Sakit ini.

 

Masih sambil bersenandung, aku tak sabar merapikan berkas-berkas dan buku yang bertebaran dimeja kerjaku. Semua masuk ketempatnya masing-masing, aku siap untuk menguncinya dilemari tempat mereka seharusnya. Aku melihat pantulan wajahku di kaca lemari, bibirku melengkung, mataku berbinar, yah, ini benar-benar terjadi. Sesaat kemudian akupun telah selesai membereskan ruangan. Aku siap untuk turun lantai dan menghampirinya.
Aku menuruni tangga dengan langkah tergesa, tanganku dingin, kakiku melangkah terlalu cepat, pandanganku memudar dan seketika yang kuingat hanyalah melayang diudara, lalu terhempas keras di lantai, hingga semuanya gelap.
“Dia ga apa-apa, sudah lakukan CT scan, syukurlah semua normal” ujar sebuah suara yang familiar kudengar.
“Alhamdulillah.  trimakasih ya dok” suara temanku menjawab.
Aku masih memikirkan, suara siapa yang baru saja kudengar? Aku kenal suara itu. Aku terus berfikir, mengapa begitu penting untuk aku ingat suaranya dan akhirnya aku membuka mata perlahan. Semua putih, langit-langit dan lampu ruang gawat darurat rumah sakit. Dahiku berdenyit, mataku berkedip-kedip perlahan, aku terus memikirkan suara siapakah yang barusan. Anya langsung menghampiriku disisi brankar, semua menghampiri, termasuk dokter yang tadi berbicara dengan Anya. Dia memeriksaku dengan seksama. Menanyakan berbagai macam pertanyaan. Aku menjawabnya sebisaku. Sepertinya aku normal dan sehat, hanya kakiku sedikit sakit, mungkin terkilir. Itu analisaku setelah bangun dari pingsan karena jatuh. Mukaku kemudian memerah, menunduk malu. Ternyata dia yang memeriksaku. Ya Tuhan, ga adakah yang lebih memalukan dibandingkan jatuh dari tangga dan diperiksa olehnya? Mungkin Tuhan benar-benar membangunkanku dari khayalan mendapatkan oleh-oleh itu darinya. Hanya mendapatkan sosoknya disini, melihat bayangan dirinya disini, mendengar tawa cerianya disini, benar-benar sudah membuatku terbang bersama kupu-kupu yang ada diperut ini.
Aku memandang Anya yang berada disampingku, mencoba menahan air mata ini agar tak membasahi pipi. Anya tahu, dia mengerti, perlahan dia menutup tirai tempat brankarku berada.
“Kamu perlu istirahat Nina.. Tenanglah, istirahat saja” Anya tersenyum disampingku. Genggaman tangannya menenangkanku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: