Flash fiction : Cawang dan dirimu

“Gimana kalau kita makan di cheese cake factory? Mau?”

“waaaa… Mauuu… Eh tunggu, itu dimana yah?” emoticon nyengir kuketik di chat.

Berhubung aku tak tau jalan dan arah, lebih baik bertanya daripada tersesat.

“Itu daerah Jakarta Selatan, Kalibata situ, Aku hapal kok tempatnya”

“ooo.. oke deh” tulisku sembari menggumamkan huruf O dimulutku.

“kalau begitu, minggu depan kita kesana ya? Sekalian kita nonton 5 cm, film yang wajib aku lihat”

“Iya tenang aja, setuju kok nonton itu”

Bibirku mengembang, pipiku memerah seperti habis menyapukan 5 kali blush on disana. Aaahhh sudah tak sabar aku menunggu hari minggu. Aku tertawa cekikikan sendiri, membayangkan hal yang menyenangkan saat pertemuan nanti.

Layar ponselku berkedip lagi. Ada pesan masuk. “Lin, tapi kamu ga apa-apa ke Jakarta?”

“Iya, tak apa-apa, aku naik kereta nanti, enaknya turun dimana ya? Cawang?”

“Di Cawang aja, nanti aku tunggu disana”

“oh, oke deh”

Berawal dari kata-kataku mengenai coklat dan akhirnya kami putuskan untuk menikmati coklat di tempat yang dia tentukan. Percakapanku dengannya berakhir. Hari Minggu depan, di Cawang, kami akan bertemu.

Matahari bersinar cerah, kuning hangat menyentuh kulitku, tak sabar rasanya menanti saat untuk bersiap menemui dia. Langkahku ringan meninggalkan rumah, menuju stasiun. Ternyata disini sudah cukup ramai, beberapa keluarga, ayah ibu dan anak kecil ikut menunggu diperon kereta yang sama denganku. Mungkin saja tujuan mereka sama, nungkin juga berbeda. Aku sendiri, menunggu keretaku. Merogoh tasku dan mengambil earphone serta menyalakan music dari ponselku. Bekal yang menemani perjalananku pagi ini. Satu demi satu stasiun terlewati. Rasanya begitu lama sampai di stasiun cawang, bagaimana penampakan peron saat ini ya? Sudah lama aku tak kesana. Aku terus menggumamkan lagu kesukaanku. Menatap ke jendela kereta yang melewati stasiun. Tak terasa sudah sampai ditempat tujuanku. Aku bergegas menuju pintu kereta. Melangkah keluar gerbong dan seketika melihat dia yang sudah melambaikan tangan di ujung peron.

“Hai…” “Hai juga, sudah lama ya?”

“Ah, tak apa-apa. Kita tunggu taxi atau bajaj sebentar yah”

“Udah sampai neng. Neng? Eh neng?”

“Eh i-iya pak, ini ya tempatnya?”

“iya, bengong aja sih neng, udah sampai dari tadi”

“hehehehe iya maaf pak, ini ongkosnya, makasih ya”

Lina turun dari bajaj. Dia berdiri dipinggir jalan, menatap kepergian bajaj yang mengantarnya. Dia baru teringat, terakhir kali naik bajaj dan berada di stasiun cawang itu, kira-kira setahun yang lalu bersama dia, menuju sebuah restoran khusus coklat. Dia hanya bisa tersenyum kecut. Siang hari begini masih saja dia sempat melamunkan masa lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: