Dengar

Oh, ternyata memang dia. Berdiri disamping meja tinggi biru itu, sesekali melihat catatan di depan tubuhnya yang tinggi. Kemeja ungu tua kali ini membuatnya begitu segar dan celana abu-abu itu kembali menemani dia hari ini, tampan.

Sekejap aku menjadi patung, sedetik, semenit, lima menit aku berdiri dibalik pintu itu. Hanya jarak delapan meter yang memisahkan kami, ah bukan, mungkin hanya lima meter? Entahlah, aku tak pernah bisa memperkirakan soal jarak. Selama aku masih bisa menatapnya, melihatnya, menangkap ekspresinya berbicara, mengamatinya dari samping, bisa mengubah moodku seharian ini.
Seolah mantra expectro patronum yang sangat manjur bagi seorang Icha melewati harinya. Jika sudah begini, semua terasa terhenti, seperti banyak kupu-kupu yang terbang melayang disini, dan puncaknya adalah seorang Icha akan terus tersenyum sepanjang hari.

Kakinya mulai melangkah, dia melewati lorong delapan meter itu, suaranya terdengar semakin dekat, ahhh dia kesini. Dia ke ruangan ini. Otakku berhenti, seketika aku menjadi patung selamat datang, terdiam, dan hanya bisa berdiri kaku.
Pintu itu terbuka, dia benar-benar datang ke ruangan ini.

Hai, Cha… gimana kabarnya?

Menyapaku yang terdiam didepan meja. Sebuah ucapan basa-basi. Aku tahu itu, tak akan ada maksud lain darinya. Tatapannya yang selalu membuatku meleleh.

Bagaimana kabarmu hari ini? Kau sudah makan?

Apakah kau tau, aku senang sekali bertemu denganmu hari ini.

Aku semakin salah tingkah, menatap tapi terlalu takut untuk mengangkat kepala, berucap tapi selalu bingung memulainya, tersenyum tapi kau tak pernah melihat.

Aku mengerti, biar aku saja yang jawab semua pertanyaan itu. Kau tentu baik-baik saja, karena kau bisa berdiri dan berada disini. Tentu kau sudah makan,  karena itu sudah kebutuhan dasar manusia. Oh ya, tentu kau biasa saja bertemu denganku hari ini. Mungkin pertanyaan itu tak akan terlintas juga di memorymu. Aku disini yang selalu ingin bertanya, selalu ingin didengar olehmu, dan mendengar cerita-ceritamu.
Andai kau bisa mendengar suara hatiku.

 

Flash fiction 1 : Dengar

#FF2in1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: