Batu Hitam

Dia tak lagi menulis, dia tak lagi menangis, dia hanya terdiam melihat batu dihadapannya. Batu hitam bertuliskan nama adiknya, masih mengkilap, dengan sedikit debu. Dia hanya tertunduk. Mungkin sudah habis air matanya. Dengan lutut menyentuh batu itu, dia mengangkat tangannya, berdoa untuk orang terakhir dalam keluarganya. Hanya meminta yang terbaik untuk satu-satunya adik lelaki yang ia miliki.

“Rissa, mari kita pulang nak.” Ajak Bu Lani
“….” Rissa masih lemah, mengusap kembali batu hitam itu. Kini ia benar-benar harus berdiri, menapaki hidup yang tersisa. Tangannya penuh debu, ia terus mengusap batu itu. Terdiam dan akhirnya mengangguk pada Bu Lani. Mereka berjalan menjauhi batu itu. Rissa memeluk dirinya yang masih belum yakin benar bahwa ia sekarang benar-benar harus hadapi semua yg ada dihidupnya ke depan dengan sendirian. 
“Rissa, nanti kamu ikut ibu yah, kamu bisa tinggal dengan ibu, gak usah sungkan, ibu senang kalau kamu bisa ikut ibu”
“Saya pikirkan dulu ya bu” ia mencoba mengukir senyum walau pahit.
“Ya sudah kalau begitu, mari ibu antarkan ke rumah kamu yah”
“Iya bu, terimakasih”

Pintu coklat, cat tembok abu-abu, pagar krem, lantai putih dan kursi kayu tua milik keluarganya, hanya menjadi sebuah saksi dia pernah punya keluarga.

“Nanti kita cat warna apa bagusnya yah ris?”
“Abu-abu bu.. Warna yang hangat, aku rasa itu cocok”
“Begitu yah, nanti kita cari varian abu-abu yang bagus yah”

“Yah, aku mau cobain dong”
“Oh boleh nih, sini ayah ajarin, ini yang searah, terus dilapisin lagi, kalau yang ini mendatar mulainya, searah juga, coba deh”
“Oke yah, aku cobain yak, ayah mau ke mesjid kan? Aku gantiin sebentar ngecatnya yah?”
“Ya udah, ayah tinggal dulu ya”

“Jangan gitu bu.. Nanti orangnya stress kalau ditanyain gitu terus, nanti ada saatnya kok”
“Iya kan ibu cuma ngomong aja ki”
“Iya, tapi jangan terus-terusan, kan kasian si kakak”
“Iya iya, ya udah”

Dia terduduk, tersedu, sudut matanya  basah, hujan deras. Dia tak tahan teringat percakapan dengan ayah, ibu dan adiknya.
Kesendirian itu mulai melingkupinya. Rissa tertatih untuk sadar dan mengusap semua air matanya. Sepertinya pergi dari rumah ini adalah salah satu solusi. Rissa segera merapikan pakaian dan barang-barangnya. Dia menelpon Ibu Lani, mengatakan akan segera jalan menuju rumahnya. Dia mengambil kunci dan gembok rumah. Menutup pintu dan pagar itu dan menguncinya. Rumah itu kesepian, tanpa penghuninya lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: