Jaket

“Yuk ikut mamah” “kemana mah?” “kita jalan-jalan sebentar yah”

Raisa menggenggam tangan ibunya yang telah terulur, dengan bibir masih cemberut, tangan kirinya masih memilin rambut ikal sebahu miliknya, langkah yang dibuat sedikit gontai karena ia merasa lelah berjalan setelah praktek olahraga disekolah. Mereka menaiki angkot yang berhenti dihadapan mereka.

 

“kita mau kemana sih mah?” “sebentar yah, kamu temani mamah kesini”

“uumm” lenguhan nafas panjang yang menyanggupi permintaan Ibunya. Setelah turun dari angkot, mereka menyeberang jalan dan mulai memasuki deretan toko dengan etalase yang berisi tas, sepatu, baju, dan barang lainnya seperti halnya sebuah mall di setiap kota.

“Raisa, sini, kamu pilih yang mana saja, dicoba dulu disana yah, mamah tunggu”

“aku mau yang merah Mba” Raisa menunjuk sebuah jaket kain berwarna merah dan segera mencobanya.

“aku mau yang ini saja” “Ukurannya sudah pas?” “Iya, ini enak kok dipakainya”

“Mba, yang ini saja yah” “Baik, saya siapkan ya Bu”

“ini Raisa, dipakai kalau nanti mendung atau hujan, supaya hangat yah, karena jaket kamu yang hitam itu hilang kemarin, jadi sekarang pakai ini saja yah” “Iya Mah, makasih ya”

 

Raisa terdiam, ia berdiri disamping ibunya, memegang tas plastik berisi jaket merah pilihannya yang baru. Jaket ini keren, aku suka banget sama warna dan modelnya, tapi kenapa mamah…? Raisa teringat sesuatu, mamah memberikan jaket ini karena jaketku yang dipakainya beberapa minggu lalu ke Carrefour, hilang saat diparkiran. YaTuhan, aku bahkan sudah lupa kalau jaket itu telah hilang dan sekarang mamah memberikan jaket baru kepadaku.

Aku yang saat itu sangat kesal, bibir manyun, pipi menggembung, langsung balik badan dan menuju kasur kesayangan, saat aku mengetahui jaketku yang dipinjam mamah untuk naik motor menuju Carrefour itu telah hilang. Mamah bahkan memberikan jaket baru yang lima kali lebih keren dan bagus dibandingkan jaket angkatan sekolah yang hilang itu.

Aahh… aku sayang mamah… dia selalu memberikan yang paling baik untukku. Tak terasa disudut mata Raisa terlihat berkilau dan meneteskan sesuatu yang basah, air mata haru yang tak terbendung. Tak seharusnya aku begitu marah dan kesal kepada mamah, Raisa sadar bahwa ia telah salah bersikap. Bagaimanapun seorang Ibu akan memberikan paling baik untuk anaknya. Raisa memeluk mamahnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: