dua kata

“aku kuat”
Nina berdiri didepan cermin, melihat dirinya sendiri, pucat, mata sayu, rambut sedikit berantakan dan terakhir bibirnya melengkung dengan sedikit bergetar.  Dia mengamati setiap sudut wajahnya, kulit sawo matang khas ras Asia miliknya, mata coklat, alis hitam dan tebal, pipi tembem, serta rambut hitam yang terurai di wajah dan bahunya. “Wajahku ga jelak-jelek amat kok”. Nina merapihkan rambut ikal hitamnya dengan tangan. Dia mengangguk dan  bibir itu melengkung lagi. Tergeletak disamping kasur, handphone Nina berkedip-kedip merah. Dia meraih dan langsung mengnonaktifkan. Aku perlu istirahat, tidur adalah salah satu solusi terbaik saat ini, pikirnya saat itu.
****
“Selamat pagi Mba Nina” “iya selamat pagi Bu” sapaan satpam ruangan membuat pagi ini menjadi lebih baik. Nina membuka pintu ruangan, melangkah meraih remote ac dan menyalakannya, merapikan kalender dan alat tulis di mejanya. Tiga hari lagi Ramadhan, targetku harus tercapai untuk Ramadhan ini, pikirnya sambil mengepalkan tangan didepan badan. Meja, alat tulis, komputer, telepon sudah siap menemani Nina menghabiskan hari ini diruang kerjanya.
***
“Keren banget ya sunset-nya” “Keren pake banget ini sih namanya!” Dua orang melihat sinar oranye, jingga, kuning bercampur jadi satu, diujung Barat. Berdiri bersandar pada pagar pinggir balkon gedung. Tawa menyelingi percakapan mereka. Bibir Nina melengkung, senyumnya tak bisa disembunyikan lagi. Pikirannya terbenam pada moment itu. Nina teringat saat dimana dia bisa melihat matahari terbenam bersamanya. Ahhh… andai saja dia masih di tempat ini. Nina melirik jam tangannya, tanpa disadari sudah hampir jam makan siang, otaknya penuh dengan order, faktur, permintaan obat dan alkes lainnya. “huufff….” Sudah cukup rasanya dia berdiri di balkon gedung, memandangi langit siang, tertutup awan mendung, matahari enggan muncul siang itu. Balkon yang menjadi tempat favorit dia memecah kepenatan yang sering dialaminya. Langkah Nina enggan meninggalkan balkon, dengan gontai dia memasuki pintu dan menuju lift. “TIIING…” Pintu lift terbuka dilantai dimana dia seharusnya sejak tadi berjibaku dengan kertas, komputer dan telepon.
“Mba Nina, ada paket untuk Mba” “hah? Paket apa Bu?” Satpam memberikan satu bucket mawar putih, cantik dengan hiasan pita pink pastel, kertas pembungkus putih dan krem yang menyelimuti mawar itu. Nina terdiam dan terbengong-bengong di depan pintu lift. “dddaaari siapa Bu?” Nina tergagap bertanya kepada Ibu Satpam. “itu mba, toko bunga yang kirim, kata yang antar, ini buat Mba Nina, tapi yang kasih bunga ga ngasih nama” Ibu Satpam menjelaskan dengan panjang lebar. Mata Nina terkejap sambil memegang bucket bunga mawar putih besar itu.
Siapa? Siapa? Siapa yang kirim ini? Nina berkata dalam hati dengan kening berkerut-kerut dan mata terkejap.
“Ciee Nina dapet bunga mawar…. Aiiihh romantis banget tuh yang ngirim, siapa tuh Nin?”
“Hah? Ga tau Pak. Aku juga bingung nih, siapa yah?” Nina malah balik bertanya pada atasannya.
“ya udah disimpen di vas aja dulu, biar awet bunganya. Bagus buat pemandangan di meja”
“iiiya Pak” Nina masih terbata menjawab pertanyaan tentang bucket bunga itu.
Ah, ga mungkin dia yang kirim. Sudah berbulan-bulan dia tak menyapa, mana mungkin tiba-tiba membelikan bunga seperti ini. Kening Nina berkerut, mulut terkatup dan masih memandangi bunga mawar itu di mejanya.
“Cie secret admirer akhirnya kirim bunga juga tuh Nin” komentar Bowo dengan mengedipkan mata didepan muka Nina.
“Apaan sih lo, siapa juga yang miara secret admirer”
“ngaco lo, secret admirer dipiara” Bowo tertawa terbahak sambil duduk didepan meja Nina. “Wah gue makin tersingkir dari hati lo dong Nin..” Celetuk Bowo dengan tubuh gontai dan muka cemas.
“Gue yakin, pasti bukan lu yang kirim bunga ini kan?” Tanya Nina sambil menunjuk muka Bowo yang duduk didepan mejanya. “Yaiyalah, klo gue mau ngasih, mendingan gue langsung bawa kedepan muka lu” Jawab Bowo yang ga mau dituduh sebagai pelaku pengirim bunga.
“ya udah kalo bukan lu, sana pergi, gue mau kerja lagi!” Nina menjawab dengan sewot dan mengusir Bowo.
Sekarang bulan Juli kan? Nina mengambil kalender dan memastikan tanggal. Berarti ulang tahun gue masih lama dan gue ga lagi merayakan sesuatu deh. Jadi buat apa bunga ini? Atau si toko bunga salah kirim kali ya. Nah, bisa jadi begitu, nanti gue cek deh. Nina menggumam sendiri dan mengangguk, dia kembali berkutat dengan aktifiktasnya.
***
“Selamat pagi Mba Nina…” “Iya pagi Bu” “Mba, ini ada paket lagi” “Hah? Lagi?!” jawab Nina dengan kening berkerut dan dagu maju keheranan. GILA, bucket mawar putih lagi?! Satu bucket mawar putih
cantik dengan hiasan pita hijau pastel, kertas pembungkus putih dan krem yang menyelimuti mawar itu berada dalam genggaman Nina. Harum khas mawar memenuhi indra penciuman Nina pagi itu dan lagi-lagi tanpa nama pengirim. Hari ini benar-benar harus gue cek ke toko bunganya. Bener ga sih buat gue. Nina mengucapkan terima kasih pada Bu satpam dan berjalan dengan enteng ke ruangannya.
“Halo, dengan Indah Florist?” “Iya betul bu, ada yang bisa kami bantu?”
“saya Nina, kemarin dan hari ini saya dapat kiriman mawar putih dari tokonya Mba, beneran ini buat saya? Pengirimnya siapa yah?”
“nggg… Sebentar ya Bu saya cek” si penerima telepon membalik kertas dan kembali menjawab “Iya memang benar untuk Ibu Nina di RS Sejahtera tetapi mohon maaf kami tidak bisa memberikan identitas pengirimnya, ini salah satu bagian pelayanan kami”
“Kok gitu sih Mba? Ini saya Nina penerima bunganya kok Mba…”
“Maaf Ibu, tidak bisa kami beritahukan, Semoga Ibu suka dengan bunga yang kami kirimkan”
“ya udah deh Mba, makasih ya”
“Baik Ibu, Selamat sore” Huuufff…. Nina menghela nafas panjang dan kembali mengkerutkan kening. Siapa sih?
***
“Mba Nina, pagi ini ga ada paket bunga lagi nih kayaknya” Satpam lantai 5 langsung menyapanya begitu melihat Nina keluar dari lift. Nina hanya tersenyum sedikit. Hmmm agak kecewa sih, ya sudahlah, mungkin cuman kerjaan orang iseng aja.
“Nin, balik kerja tungguin gue, 30 menit lagi gue beres nih, bareng keluarnya ya” “oke” Nina menutup telepon, beranjak dari kursi dan menuju toilet lantai 5. “TIINGG…” Terlihat mawar putih dipegang oleh seorang pria pengantar bunga. Kali ini, mawar putih cantik dengan hiasan pita biru muda, kertas pembungkus putih dan krem yang menyelimuti mawar itu. Langkah Nina terhenti didepan lift. Dia terdiam, mematung, tak bergerak dari titik itu. Si pengantar bunga menuju satpam yang sedang duduk, mata Nina tidak beranjak dari bucket mawar itu. Dia pergi, menganggukkan kepala dan kembali masuk lift untuk kembali menjalankan tugasnya. Ibu satpam tersenyum lebar dan menghampiri Nina, “Nih Mba Bunganya” Ibu Satpam menyodorkan bucket mawar itu padanya. Nina tak bergerak, matanya masih takjub, mulutnya ternganga kemudian tersenyum sambil terheran-heran.
“Eh? Lu dapet bunga lagi Nin? Wow orang ini niat banget ngasih bunga yah, jadi penasaran gue, siapa yah yang kirim? Lu udah cek ke toko bunganya? Eh? Kok lu malah diem aja sih?” Sinta yang tiba-tiba berdiri disamping Nina dan menggoyangkan bahunya yang terlihat masih shock menerima bunga itu.
“ehh sadar Nin, gue tunggu didepan lift ya, cepetan beresin tas, udah jam pulang nih, ayo ah” “ugh? Iyah, bentar yah” Nina berlari menuju ruangannya, merapikan barang dan kertas-kertas dimejanya, mengambil tas dan mengunci ruangannya. Mereka turun ke lantai 1 untuk absen dan segera pulang. Saat kembali dari tempat absen, mereka berjalan menuju pintu depan, Nina terhenti, terdiam didepan loby, terbengong menatap sepuluh orang yang masing-masing membawa bucket mawar putih cantik dengan hiasan pita biru muda, kertas pembungkus putih dan krem yang menyelimutinya. Sepuluh orang itu berdiri berbaris rapi didepan Nina, berbalik badan dengan menunjukan satu huruf dipunggung mereka.
M A A F K A N   A K U.
MAAFKAN AKU? Apaaan sih? Ada Apaan ini?
Sepuluh orang itu mendekati Nina dan memberikan bucket mawar itu padanya sambil tersenyum dan berkata “Maafkan dia”
Bagas, berjalan pelan dari depan pintu masuk, dengan kemeja santai biru pastel, celana jeans dan sepatu kets favoritnya, menggenggam satu bucket mawar merah cantik dengan hiasan pita biru pastel, kertas pembungkus putih dan krem yang menyelimutinya. “Aku mohon maaf lahir dan batin yah Nina”
“Kamu? Kamu yang kirim ini semua?” Nina terbata menjawab ucapan Bagas. Nina menyambut bucket mawar merah itu ke tangannya. Mukanya merah, tersenyum lebar, menunduk dalam seperti orang mengheningkan cipta. Bagas sudah berdiri dihadapannya, lelaki yang membuatnya menangis tiga hari yang lalu, sekarang berada didepannya. Laki-laki ini sudah lama ia rindukan, berbulan-bulan dengan segala ego dia menahan dan memendam keinginan untuk menyapa.
“Iya aku yang kirim, aku sadar aku salah, aku hanya ingin minta maaf, apalagi besok kita akan menjalani puasa, itu aja Nina”
“Iya, aku juga minta maaf yah”

Nina menatap wajah itu, Laki-laki tinggi ini tetap sama, kulit cerah, rambut hitam, kacamata coklat dan mata yang selalu Nina rindukan. Bibir Nina melengkung dengan indah. Suatu sore menjelang Ramadhan yang menyenangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: