Jatuh Hati Part 3

“eh Fan, maksud lo apaan sih? Si Tika udah ada cowo baru? Lu ga liat muka cowo itu?” serbu Marisa dengan pertanyaan membabibuta-yang–entah-itu-pertanyaan-ditujukan-ke-siapa. Kalau bisa mengecilkan tubuh, sekarang adalah saat yang tepat, aahh tidak, saatnya di interograsi nih bentar lagi.

“Tika…??” “Oke girls, tenaaanng tenaaanng gue akan cerita” huufffff… diawali dengan helaan nafas panjangku. Mulailah aku bercerita tentang kehadiran Harris yang selama ini aku kagumi dan ternyata dia lebih menarik daripada hanya untuk dikagumi, dia lebih dari sekedar keren hanya untuk dikagumi, mungkin dipuja? Ahaha.. baiklah.. serius nih, sejauh ini aku hanya menjalani apa yang tidak atau belum kami sebut sesuatu yang istimewa. Kalau kata orang jawa sih, let it flow..

“ngaco lo Tik, ahahaha.. terus gimana sekarang?”

“yaa ga gimana-gimana lah Jeng, gue kan baru tahap mengenal aja”

“iya mengenal gimana lu berubah jadi kepiting rebus kalau lagi dipuji mulu sama dia”

“CIIIEEEEEE…” semua bersorak serempak kayak anak Pramuka lagi pamer yel-yel.

“eh gila lu pada, lagi di mall nih, jangan teriak norak gitu dong” kataku sambil memberikan isyarat untuk diam pada gerombolan heboh ini.

“Okelah Tik.. good luck for you darling, kita semua senang kalau lu bisa senang seperti sekarang, semoga awal yang baik yaa darling” Dila akhirnya berkata bijak dan disambut anggukan kami semua.

“aauuu so sweet sekali, makasih yaa teman-teman” ujarku dengan muka berseri-seri

***

“Tika, mau kemana kamu?”

“ada acara Bu” jawabku sambil memulas bedak didepan kaca.

“ooo ada yang mau jemput ya?”

“iya Bu”

Terdengar mobil parkir didepan rumahku, pintu mobil terbuka dan disanalah dia, siap menghampiriku di rumah.

“Assalamualaikum, Tika..”

“Iya Harris, masuk aja, bentar ya”

Ibuku keluar menyambutnya. Dia spontan menghampiri dan cium tangan ibu. Sesuatu yang menyenangkan untuk dilihat. Hatiku tersenyum melihatnya begitu.

“so, where will we go this time?”

“I’m not gonna tell you, just wait okay?”

“hmm better it is good yaa?”

“okay princess” katanya sambil membungkukkan badan ala Nicholas Saputra di AADC setelah ngobrol sama Cinta, haduhhh nih orang bisa ga sih ga bikin aku meleleh gini. Tapi yang terjadi dimukaku cuman senyum garing. Ahahaha..

“nah sampai juga nih disini”

“Planetarium?!” kataku takjub dan melonjak kegirangan. “serius kita mau lihat pertunjukkannya?!” kataku yang tak bisa menyembunyikan antusias yang menggebu.

“of course dear, lets go”

“waaahhh…” buru-buru ku lepaskan sabuk pengaman dan segera membuka pintu mobil.

PENGUMUMAN

 DIBERITAHUKAN KEPADA SELURUH PENGUNJUNG PLANETARIUM, BERHUBUNG PROYEKTOR UTAMA M-IX DALAM PROSES PERBAIKAN, MAKA PLANETARIUM TIDAK ADA PERTUNJUKAN HINGGA WAKTU YANG BELUM DAPAT DITENTUKAN, MOHON MAKLUM, TERIMA KASIH

Kepala Planetarium Jakarta

“Yaaaahhhhh…!!!!” kami berteriak bersamaan setelah selesai membaca pengumuman itu. Saling pandang dan muka cemberut berbarengan.

“Maaf Tik.. kirain bisa nonton pertunjukkan” katanya dengan raut muka sendu sedih gitu.

“Iya gapapa Harris, belum jodoh buat nonton pertunjukkan ini” kataku sambil putar badan dan menuruni tangga lobi planetarium. Tiba-tiba lenganku tertarik sesuatu, ternyata Harris menarik lenganku sambil berkata “Gimana kalau kita ke tempat lain, yang deket sini aja, supaya kita ga cemberut mulu begini” katanya sambil menunjukkan muka cemberut seperti bocah kecil.

Mau tak mau aku jadi tertawa melihat bentuk wajahnya sekarang. “Ya udah boleh deh”

“nah gitu dong, yuk masuk lagi princess” dia menggiringku ke mobil dan membukakan pintu mobil. Haduh Ris, please bisa stop bikin aku kayak princess beneran gini ga? Untuk kesekian kalinya aku meleleh karena dia.

*bersambung*

Advertisements

Jatuh Hati Part 2

“jadi kita mau kemana?”

Dia tersenyum masih dengan tangan kanan memegang stir mitsubishinya dan tangan kiri di perseneling. “ada deh, liat aja nanti”

“aahh ga asik nih, pake rahasian segala”

“ahahaha.. tenang aja, pasti bakal seru kok”

“awas ya kalo ngebosenin” ancamku sambil nunjuk ke hidungnya.

“ahaha iyaa, dijamin seru”

“fine, we will see then”

Mobil sedan hitam ini memasuki gerbang sebuah museum. Halaman yang luas dengan icon sebuah hiasan dari besi begitu besar di tengah lapangannya. Akhirnya aku menjejakkan kaki di museum ini. Museum Nasional yang telah sedikit mengalami perubahan dan renovasi, semakin menarik dan edukatif untuk pengunjungnya.

“wah ga nyangka museumnya besar banget yaa…” kataku sambil mengadahkan kepala dan melihat berputar dari tempat kuberdiri dengan mata terbelak heran.

“ahaha iya, emang besar sekarang, masih tahap renovasi sih, tuh ada beberapa lantai yang masih belum buka, sayang banget, itu justru objek yang menarik untuk dilihat, sejarah tentang perekonomian dari jaman prasejarah hingga sekarang dan disana seharusnya ada uang-uang kuno koleksi museum ini” jelasnya panjang lebar dan yang bisa kulakukan adalah membentuk huruf o di mulutku dan menganggukkan kepala.

“yuk kita kesana, keliling yuk” “siap bos” kataku sambil mengangkat tangan tanda hormat padanya.

Dia tertawa renyah, selalu membuat aku semakin tersipu dan kangen senyumnya itu.

Saat kami sudah hampir selesai keliling dan terduduk kecapekan di salah satu kursi yang ada dihalaman samping gedung, aku baru tersadar, sepertinya dia belum memotret sama sekali. Sempat ragu untuk bertanya tetapi kuputuskan bertanya padanya. “kok dari tadi belum pegang kamera kamu?” “oh iya yah, asik keliling dari tadi sama kamu sih” hehehe dia tertawa basi. Tawaku pecah “dasar kamu, gimana sih, katanya mau motret”

“but actually I got everything that I need in here” sambil menunjuk ke arah kepalanya. “and what is that?” “a lot of pictures of yours” aku hanya bisa menunduk malu, senyum sumringah menghiasi mukaku.

“aku dapet kok foto-foto yang aku suka, mau lihat?” katanya sambil menyodorkan kamera yang masih didalam genggaman tangannya yang besar dan kuat itu. Dengan cepat aku mengangguk pasti dan sambil senyum sumringah seperti anak kecil disodorkan coklat kesukaannya.

Mataku terus tertuju dengan foto-foto luar biasa sangat bagus itu. Lebay sih penilaianku. But, these pictures are really great, dia mengambil foto itu ala candid dengan berbagai objek di museum ini dan tentunya disana ada aku sebagai salah satu objeknya. Baru kali ini aku lihat foto yang begitu ‘hidup’ walau hanya berupa benda-benda dan hanya satu objek hidup yang terkadang hanya menjadi penyeimbang dari foto itu. Tanganku terus saja mengklik foto-foto itu dan tiba-tiba saja hidungku disentuh oleh jarinya “serius amat ngeliatin fotonya” katanya sambil senyum jahil. Aku mendongak kaget dan senyum nyengir didepannya. “bagus-bagus banget ini Harris… aku suka liatnya”

“syukurlah kalau kamu suka, walau ga banyak muka kamu disitu”

“hehehe iya gapapa kok, ikhlas kok aku. Kamu itu berbakat jadi fotografer professional loh”

“Oh ya? Aku sih hobi aja, kebetulan ada yang minta jasa aku juga sih, ya lumayan buat jajan”

“tuh kan, orang lain juga mengakui foto kamu tuh bagus-bagus, you should seriously learn about that” “of course I will dear, I love doing it”

“That’s good” kataku masih sambil meng-klik kameranya untuk melihat foto-foto yang masih tersisa.

***

Salah satu hal yang menyenangkan saat menjadi anak kuliahan adalah tentunya mengisi waktu kosong antara jadwal kuliah. Tentu saja menjadi waktu yang menyenangkan bersama teman dekat, yeah of course teman-teman cewe yang jadi gerombolan aku sehari-hari. “eh Tik, kemarin gue mau kerumah lu, terus gue liat ada mobil sedan Mitsubishi dengan tangan melambai-to say bye to you-yang lagi berdiri depan pager rumah lo, nah siapa tuh isi mobilnya?” celetuk si Fany yang beneran gamblang banget nanya dan menceritakan sebagai saksi mata dari Tempat Kejadian Perkara dirumahku kemarin.

Waduh, kok dia bisa liat sih, mesti jawab apa ini sekarang ohh GOD…

*bersambung*

Jatuh Hati

Dia ada disana, berjalan pelan diiringi temannya, melewati koridor gedung A, mereka sepertinya membicarakan sepakbola semalam yang sedang ramai, dia hanya tersenyum simpul, melihat kedua temannya saling ejek klub sepakbola yang berbeda. Aku tahu, kamu tak terlalu maniak bola, sesuatu yang membuatmu tertarik adalah fotografi. Aku menyadarinya saat kau membawa kamera waktu itu, kau membidik setiap arah, mencoba lensa barumu. Dan kemudian kau melihat kearahku, aku yang berpura membaca novel, terkesiap melihat kameramu mengarah padaku. Novel yang kupegang langsung kuangkat tinggi menutupi wajahku. Selama beberapa menit aku terus berpose seperti itu. Namun setelah kuintip dari balik novel, kau tidak lagi mengarahkan kamera, tetapi kau menengok ke arah tempatku duduk dimeja ujung dekat gedung F. Mau tak mau wajahku memerah dan tanganku mulai menggaruk kepala yang tidak terasa gatal, langsung saja aku sambar novel yang ada dimeja, mencoba menutupi wajahku yang memerah. Ternyata ia tak melihatku, kameranya terlalu tinggi untuk membidik diriku, akhirnya aku sadar dia mengarahkan kamera ke bunga bugenvile diatasku, memang sedang bermekaran begitu cantik, dengan warna pink menyala diantara hijaunya dedaunan. Ah iya, tentu saja dia tak kan melewatkan objek yang sebagus itu. Sejak itu aku menyadari kamu memang menyukai dunia fotografi.

Mereka duduk di kantin bergabung dengan anak kelas lainnya, dia lebih memilih mendekati Irfan, teman sepermainannya yang juga menyukai foto, mereka membicarakan camera, lensa, tripod untuk keperluan hobi mereka, merencanakan waktu dan acara yang pas untuk memotret. Dari mana aku bisa tahu? tentu saja berkat bu Santi yang selalu mendengarkan percakapan mereka di depan konter makanan miliknya. Bu Santi ternyata memperhatikan bahwa aku selalu memandangnya dengan berbeda, selalu menggodaku agar segera mengatakan padanya saja. Tentu saja aku menolaknya dengan segera, tidak mungkinlah wanita mengatakannya lebih dahulu, kilahku saat ditodong seperti itu.

Ah sudahlah, hari ini sudah cukup aku mengamati, memandang dan mengaguminya. Sudah cukup menyenangkan bagiku melihatnya hari ini. Selanjutnya aku harus ke perpustakaan MIPA, mencari referensi untuk laporan praktikumku minggu depan. Langkahku ringan menuju jalan setapak ke perpustakaan, angin semilir membuatku berjalan perlahan dan menikmatinya. Aku menengok ke kanan dan kiri, pagi ini jalan setapak sepi, belum ada mahasiswa lain yang lewat sini, sinar matahari sedang hangat menyinari jalan ini. Aku merentangkan tangan, berdiri terdiam di tengah jalan setapak ini, menutup mata, bernafas dengan perlahan, kuhirup udara pagi hangat dari sekitarku, pohon rimbun disekitarku benar-benar menghasilkan oksigen yang segar untuk paru-paruku, kakiku perlahan melangkah berputar, terus berputar, perlahan berhenti dengan membuka mata perlahan dan kudapati dia disana. Diujung jalan sana, mengarahkan kamera ke diriku. Jaraknya masih sepuluh meter dibelakangku. Tapi aku tahu itu dia. Kemera itu tetap didepan wajahnya, tangannya asik memencet tombol kamera membidikku. Jantungku berdegup lebih kencang, badanku kaku dan tiba-tiba saja aku menunduk, tanganku menutupi wajah merahku yang seperti tomat merah, dia menurunkan kamera dari depan wajahnya saat aku mulai menurunkan tangan yang menutup wajahku. Dia… tersenyum, manis, sangat manis, dan aku tersentak dengan senyum itu. Wajahku yang kaku mulai melunak dan ikut tersenyum melihat dirinya.

“Moment yang sangat tidak boleh dilewatkan, kamu cocok dengan moment ini” katanya sembari mengadahkan kepala melihat sekeliling kami, pohon-pohon tinggi disamping jalan setapak kecil ini, dengan sinar matahari yang menyelip masuk ke sela daun-daun mereka hingga akhirnya sinarnya menyentuh kulit kami dengan lembut, udara yang hangat dan segar pagi ini membuat siapa saja yang melewati jalan ini bernafas lebih santai dan menyenangkan.

Aku menganggukan kepala. “mungkin begitu”

“lebih dari mungkin, memang cocok” dia mulai berjalan mendekatiku, delapan meter, lima meter dan berada dihadapanku begitu dekat. Menatap mataku dengan mata coklatnya yang teduh, wangi tubuhnya tercium bersamaan dengan angin yang berhembus ke arahku. Aku menatap mata itu, mengadahkan kepala lebih tinggi dari biasanya, dia ternyata lebih tinggi dari perkiraanku. Matanya begitu teduh dan dalam, dia tersenyum kembali dan aku seperti semakin tersihir olehnya. Bersedia melakukan apa saja asalkan bisa terus memandang mata coklat yang teduh ini, aku tersenyum kagum dan jantungku berdegup lebih kencang lagi. Wajahnya begitu dekat, wangi tubuhnya, hingga tegap dadanya ada disini, dihadapanku. Apa aku mimpi? Jika iya, tolonglah Tuhan jangan bangunkan aku dari mimpi ini. “Boleh aku foto kamu lagi di lain waktu?” dia membuka suara.

Apa aku tak salah dengar? Apa mungkin ini halusinasiku yang sudah sangat parah? Mataku berkedip-kedip. Mulai sadar bahwa ini bukan mimpi ataupun halusinasiku semata. Ini nyata, dia memintaku untuk menjadi objek fotonya.

“bo..boleh aja” jawabku tergagap setelah sadar oleh sihir dirinya.

“kalau begitu boleh aku minta nomor teleponmu? Akan kuhubungi untuk waktu dan lokasinya”

“IYA, TENTU SAJA” kataku sambil menutup mulut yang sudah terlanjur berkata sangat jujur ini.

Dia tertawa pelan, mengambil ponselnya dan siap mencatat nomorku.

“baiklah sampai nanti ya, akan kuhubungi nanti” sahutnya sembari berjalan mundur beberapa langkah, menundukkan badan padaku dan mulai balik badan.

Ekspresi yang bisa kutunjukkan hanya mulut ternganga dan akhirnya tersenyum meringis. Aku masih terdiam di jalan itu, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Kucubit pipiku sendiri, aaaww terasa sakit. Jadi ini benar-benar bukan mimpi.

Aku tersentak dengan getaran di kantong celana jeansku. Ternyata ponselku bergetar, ada yang menghubungiku. Cepat-cepat aku angkat tanpa melihat siapa yang menelepon “Halo?”

“Halo halo aja sih Tikaaaa, kemana aja sih, buruan, kita udah di perpus MIPA nih”

“eh uh oh, iya iya gue kesana sekarang kok” jawabku gelagapan. “Ya udah cepetan Tik” “oke oke”

Kok aneh sih, temen-temen udah sampai cepet banget ke perpus, uh.. baru juga sebentar aku ketemu dia, Harris. Aku seperti kesetrum, kepala menggeleng-geleng cepat dan senyum-senyum geli sendiri, aahh semoga yang tadi adalah pertanda baik. Aku langsung berlari kencang ke arah perpustakaan.

“ooooiiii” teriak Mila kedepan wajahku sambil mengibaskan tangannya. Aku seperti tersadarkan kembali ke Bumi, setelah sebelumnya aku berada di khayangan dan duduk berdua dengan Harris di meja candle light dinner, menikmati makan malam kami berdua yang begitu enak, serta tentu saja dengan mata coklatnya yang teduh, senyumnya yang mengembang hanya untukku. Mataku berkedip-kedip sambil tersenyum kesemua temanku.

“waahh ga beres nih anak”

“eh lu nyimak ga sih? Lu kebagian Biokimia pemeriksaan darah, gimana mau ga?”

“hah, iya gapapa” jawabku masih dengan tatapan penuh arti ke arah bangku kosong dimeja seberang.

“ok kalo gitu Tik, kita kumpul lagi lusa ya, kalau ada yang perlu bantuan jangan lupa segera japri”

“Oke Fan”

Akhirnya jadwal hari ini usai dengan Praktikum Analisa Pangan, yang tersisa adalah mengolah data praktikum. Huff semangat Tikaaa.. pikiranku meneriakkan nama sendiri, salah satu cara membangkitkan mood untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah tanpa henti ini. Baiklah, alat perlengkapan sudah siap, saatnya mulai mengerjakan sesuai prioritas deadline tugas. Ponselku bergetar-getar diatas buku yang berserakan dikasurku. Aku langsung menyambarnya. “halo”

“hai, ini Harris”

“Ah Iya… Hai juga”

“sori yah gangguin kamu malem begini”

“its okay kok” jawabku dengan suara setenang mungkin dan sambil senyum-senyum diatas kasur bertumpuk dengan buku-buku literature laporan praktikumku. Ya Tuhan.. jantungku berdetak kencang sekaliii…

“umm.. weekend ini aku mau motret, kamu ikut ya? Maksudnya ikut untuk jadi modelnya”

“oh hari apa ya?” “Sabtu ini? Ada jadwal kuliah?” “ga ada sih, sengaja aku kosongin buat liburan” duh jawabanku kenapa jujur banget begini sih? Disana dia tertawa renyah. “oke kalau begitu, aku jemput kamu dirumah ya, sekitar jam 9” “eh? Dirumah aku?” “iya, boleh kan sekalian main kerumah kamu?”

“hehehe boleh aja” BOLEH BANGET HARRIS!! Oke fix, sepertinya jantungku perlu operasi, detaknya terlalu kencang dan hampir keluar dari badan ini. Senyumku makin lebar dan aku mulai memilin-milin rambut sambil tiduran diatas kasur. Aku melihat kupu-kupu keluar dari dinding kamarku yang hijau ini, dari perutku seperti mengalir sesuatu yang sangat menyenangkan, hingga aku semakin menikmatinya.

*bersambung*

Terinspirasi dari Lagu “Jatuh Hati” oleh Raisa

Without You

Koridor itu putih, seperti mukaku yang selalu putih pucat saat bertemunya. Dia tidak tersenyum, juga tidak menoleh padaku. Tetapi tetap saja aku memucat saat melihat sosoknya dikejauhan, berjalan melintasi koridor menuju lorong putih selanjutnya. Dadaku bergedup kencang. Aku yang berada disisi lain koridor, menoleh, terdiam dan tanpa kedip melihat dirinya melintasiku. Ternyata dia telah masuk. Ini adalah hari pertama aku melihatnya setelah dia cuti selama seminggu lebih. Dia tetap sama, badannya yang tinggi, parasnya yang segar, serta tentu saja keramahannya terhadap semua orang. Dia menyapa seorang perempuan yang berpasan dengannya di pintu menuju lorong itu. Perlahan aku menarik nafas panjang, mengedipkan mata, mengembangkan senyum. Semua terlihat lebih cerah sekarang, tiap detik waktu terasa begitu menyenangkan, langkah kaki terasa nyaman, perutku bergejolak seperti ada kupu-kupu yang siap berterbangan dari diriku. Efek selanjutnya tentu saja adalah aku tersenyum cerah ke setiap orang berpasan denganku.

“Siang mba Nina…”

“Hai.. siang juga ibu..” senyumku merekah seperti bunga sepatu yang baru saja bermekaran.

“lagi seneng nih kayaknya hari ini”

“hehehe… begitulah bu” aku terus tersenyum senang.

Aku masuk ruangan dengan senyum cerah, kuputar lagu-lagu menyenangkan, sedikit bergumam sembari aku membereskan buku-buku di lemari perpustakaan ini.

tok tok…

Terdengar pintu diketuk, aku terkejut melihatnya. Dia ada disana, hendak masuk keruanganku. Membuka pintu dan dengan senyum ramahnya dia menghampiriku.

“ini untuk kamu”

“eh? Aku? Ugghh.. umm.. makasih yah, jadi ngerepotin” kataku terbata sembari menerima pemberiannya

“ah ga kok, cuman oleh-oleh aja dari sana, kan kamu minta kemarin”

“iya sih, tapi becanda aja kok, ga maksud buat ngerepotin gini”

“ga apa-apa kok, nih” dia menyodorkan bingkisan oleh-oleh khas Makassar “pergi dulu ya”

“oke” seruku dengan senyum mengembang

 

Dia kasih aku oleh-oleh? Karena aku iseng minta via bbm kemarin? Ini sungguh nyatakah? Aku mencubit-cubit pipi sendiri, menatap cermin dihadapanku, hingga akhirnya senyum-senyum dan loncat-loncat di toilet kantor. Seminggu lebih aku seperti zombie yang datang untuk bekerja, berjalan dengan berat, pucat tanpa senyum, suram dan murung. Itu semua karena dirinya sedang tak ada disini. Tapi… apakah dia merasakan hal yang sama ya? Hari-hari terasa berat dijalani, waktu semakin lambat ditiap detik yang berjalan, hingga langitpun menjadi gelap saat tak bertemu. Entahlah apa yang dirasakannya, aku hanya ingin terus merasakan sensasi menyenangkan ini, kupu-kupu yang keluar dari tubuhku, pelangi disetiapku melihat, angin lembut yang segar setiapku melangkah kesini, ke Rumah Sakit ini.

 

Masih sambil bersenandung, aku tak sabar merapikan berkas-berkas dan buku yang bertebaran dimeja kerjaku. Semua masuk ketempatnya masing-masing, aku siap untuk menguncinya dilemari tempat mereka seharusnya. Aku melihat pantulan wajahku di kaca lemari, bibirku melengkung, mataku berbinar, yah, ini benar-benar terjadi. Sesaat kemudian akupun telah selesai membereskan ruangan. Aku siap untuk turun lantai dan menghampirinya.
Aku menuruni tangga dengan langkah tergesa, tanganku dingin, kakiku melangkah terlalu cepat, pandanganku memudar dan seketika yang kuingat hanyalah melayang diudara, lalu terhempas keras di lantai, hingga semuanya gelap.
“Dia ga apa-apa, sudah lakukan CT scan, syukurlah semua normal” ujar sebuah suara yang familiar kudengar.
“Alhamdulillah.  trimakasih ya dok” suara temanku menjawab.
Aku masih memikirkan, suara siapa yang baru saja kudengar? Aku kenal suara itu. Aku terus berfikir, mengapa begitu penting untuk aku ingat suaranya dan akhirnya aku membuka mata perlahan. Semua putih, langit-langit dan lampu ruang gawat darurat rumah sakit. Dahiku berdenyit, mataku berkedip-kedip perlahan, aku terus memikirkan suara siapakah yang barusan. Anya langsung menghampiriku disisi brankar, semua menghampiri, termasuk dokter yang tadi berbicara dengan Anya. Dia memeriksaku dengan seksama. Menanyakan berbagai macam pertanyaan. Aku menjawabnya sebisaku. Sepertinya aku normal dan sehat, hanya kakiku sedikit sakit, mungkin terkilir. Itu analisaku setelah bangun dari pingsan karena jatuh. Mukaku kemudian memerah, menunduk malu. Ternyata dia yang memeriksaku. Ya Tuhan, ga adakah yang lebih memalukan dibandingkan jatuh dari tangga dan diperiksa olehnya? Mungkin Tuhan benar-benar membangunkanku dari khayalan mendapatkan oleh-oleh itu darinya. Hanya mendapatkan sosoknya disini, melihat bayangan dirinya disini, mendengar tawa cerianya disini, benar-benar sudah membuatku terbang bersama kupu-kupu yang ada diperut ini.
Aku memandang Anya yang berada disampingku, mencoba menahan air mata ini agar tak membasahi pipi. Anya tahu, dia mengerti, perlahan dia menutup tirai tempat brankarku berada.
“Kamu perlu istirahat Nina.. Tenanglah, istirahat saja” Anya tersenyum disampingku. Genggaman tangannya menenangkanku.

Flash fiction : Cawang dan dirimu

“Gimana kalau kita makan di cheese cake factory? Mau?”

“waaaa… Mauuu… Eh tunggu, itu dimana yah?” emoticon nyengir kuketik di chat.

Berhubung aku tak tau jalan dan arah, lebih baik bertanya daripada tersesat.

“Itu daerah Jakarta Selatan, Kalibata situ, Aku hapal kok tempatnya”

“ooo.. oke deh” tulisku sembari menggumamkan huruf O dimulutku.

“kalau begitu, minggu depan kita kesana ya? Sekalian kita nonton 5 cm, film yang wajib aku lihat”

“Iya tenang aja, setuju kok nonton itu”

Bibirku mengembang, pipiku memerah seperti habis menyapukan 5 kali blush on disana. Aaahhh sudah tak sabar aku menunggu hari minggu. Aku tertawa cekikikan sendiri, membayangkan hal yang menyenangkan saat pertemuan nanti.

Layar ponselku berkedip lagi. Ada pesan masuk. “Lin, tapi kamu ga apa-apa ke Jakarta?”

“Iya, tak apa-apa, aku naik kereta nanti, enaknya turun dimana ya? Cawang?”

“Di Cawang aja, nanti aku tunggu disana”

“oh, oke deh”

Berawal dari kata-kataku mengenai coklat dan akhirnya kami putuskan untuk menikmati coklat di tempat yang dia tentukan. Percakapanku dengannya berakhir. Hari Minggu depan, di Cawang, kami akan bertemu.

Matahari bersinar cerah, kuning hangat menyentuh kulitku, tak sabar rasanya menanti saat untuk bersiap menemui dia. Langkahku ringan meninggalkan rumah, menuju stasiun. Ternyata disini sudah cukup ramai, beberapa keluarga, ayah ibu dan anak kecil ikut menunggu diperon kereta yang sama denganku. Mungkin saja tujuan mereka sama, nungkin juga berbeda. Aku sendiri, menunggu keretaku. Merogoh tasku dan mengambil earphone serta menyalakan music dari ponselku. Bekal yang menemani perjalananku pagi ini. Satu demi satu stasiun terlewati. Rasanya begitu lama sampai di stasiun cawang, bagaimana penampakan peron saat ini ya? Sudah lama aku tak kesana. Aku terus menggumamkan lagu kesukaanku. Menatap ke jendela kereta yang melewati stasiun. Tak terasa sudah sampai ditempat tujuanku. Aku bergegas menuju pintu kereta. Melangkah keluar gerbong dan seketika melihat dia yang sudah melambaikan tangan di ujung peron.

“Hai…” “Hai juga, sudah lama ya?”

“Ah, tak apa-apa. Kita tunggu taxi atau bajaj sebentar yah”

“Udah sampai neng. Neng? Eh neng?”

“Eh i-iya pak, ini ya tempatnya?”

“iya, bengong aja sih neng, udah sampai dari tadi”

“hehehehe iya maaf pak, ini ongkosnya, makasih ya”

Lina turun dari bajaj. Dia berdiri dipinggir jalan, menatap kepergian bajaj yang mengantarnya. Dia baru teringat, terakhir kali naik bajaj dan berada di stasiun cawang itu, kira-kira setahun yang lalu bersama dia, menuju sebuah restoran khusus coklat. Dia hanya bisa tersenyum kecut. Siang hari begini masih saja dia sempat melamunkan masa lalu.

Dengar

Oh, ternyata memang dia. Berdiri disamping meja tinggi biru itu, sesekali melihat catatan di depan tubuhnya yang tinggi. Kemeja ungu tua kali ini membuatnya begitu segar dan celana abu-abu itu kembali menemani dia hari ini, tampan.

Sekejap aku menjadi patung, sedetik, semenit, lima menit aku berdiri dibalik pintu itu. Hanya jarak delapan meter yang memisahkan kami, ah bukan, mungkin hanya lima meter? Entahlah, aku tak pernah bisa memperkirakan soal jarak. Selama aku masih bisa menatapnya, melihatnya, menangkap ekspresinya berbicara, mengamatinya dari samping, bisa mengubah moodku seharian ini.
Seolah mantra expectro patronum yang sangat manjur bagi seorang Icha melewati harinya. Jika sudah begini, semua terasa terhenti, seperti banyak kupu-kupu yang terbang melayang disini, dan puncaknya adalah seorang Icha akan terus tersenyum sepanjang hari.

Kakinya mulai melangkah, dia melewati lorong delapan meter itu, suaranya terdengar semakin dekat, ahhh dia kesini. Dia ke ruangan ini. Otakku berhenti, seketika aku menjadi patung selamat datang, terdiam, dan hanya bisa berdiri kaku.
Pintu itu terbuka, dia benar-benar datang ke ruangan ini.

Hai, Cha… gimana kabarnya?

Menyapaku yang terdiam didepan meja. Sebuah ucapan basa-basi. Aku tahu itu, tak akan ada maksud lain darinya. Tatapannya yang selalu membuatku meleleh.

Bagaimana kabarmu hari ini? Kau sudah makan?

Apakah kau tau, aku senang sekali bertemu denganmu hari ini.

Aku semakin salah tingkah, menatap tapi terlalu takut untuk mengangkat kepala, berucap tapi selalu bingung memulainya, tersenyum tapi kau tak pernah melihat.

Aku mengerti, biar aku saja yang jawab semua pertanyaan itu. Kau tentu baik-baik saja, karena kau bisa berdiri dan berada disini. Tentu kau sudah makan,  karena itu sudah kebutuhan dasar manusia. Oh ya, tentu kau biasa saja bertemu denganku hari ini. Mungkin pertanyaan itu tak akan terlintas juga di memorymu. Aku disini yang selalu ingin bertanya, selalu ingin didengar olehmu, dan mendengar cerita-ceritamu.
Andai kau bisa mendengar suara hatiku.

 

Flash fiction 1 : Dengar

#FF2in1

duduk berdua diangkot

Seorang nenek ditemani cucunya dalam perjalanan pulang menengok anaknya yang sakit. Dia tidak merasa terbebani untuk membantu mengurus cucunya. Mukanya menampakan sedikit cemas akan keadaan anaknya yang dirawat. Dia memegang erat cucunya agar tidak jatuh dari kursi angkot. Sang balita duduk mengamati sekitarnya, melihat rupa dari orang disekelilingnya. Dia hanya mengerti bahwa ibunya sakit dan dia sekarang dengan neneknya. Perjalanan mereka terhenti didepan sebuah komplek perumahan.
Seorang nenek yang sabar mengasuh cucunya. Apa saya bisa sesabar itu kelak? Menjaga cucu saya saat anak saya sakit. Menemani cucu saya pergi menengok ibunya di rumah sakit.
Semoga saya bisa seperti dia. :’)

WP_000200